Diposkan pada kisah cinta

Membawamu Kembali Padaku, Part-24

Bab 24. Pria Yang Katanya Suamiku

Butuh lebih dari sepekan untuk Louisha ‘muda’ menyadari apa yang telah terjadi padanya. Dia membaca hampir semua buku koleksi menara sihir tentang semua yang bertema dunia paralel juga sihir waktu. Hanya itu satu-satunya penjelasan mengapa ia berada di ruang dan masa yang mirip namun jelas berbeda. Yang ia tau ia berada di setahun kemudian setelah ia terjatuh dari kuda dan pingsan. Disini ia telah dinobatkan sebagai putra mahkota setelah kematian suami pertamanya, Pangeran Theodore yang paling ia cintai.

“Kata mereka kau sudah mati, Pangeran Theo, aku bahkan tak ingat kita akhirnya menikah. Kak Jane mengatakan banyak omong kosong tentang betapa kau sangat membenciku karena aku membuat semua anggota keluargamu meninggal. Terlalu bencinya kau hingga kau memilih kematian yang menyakitkan” Louisha meraba lukisan wajah Pangeran Theodore yang tersimpan jauh di istana terbengkalai, Paviliun Bintang. Marina juga mengatakan bahwa ia sendirilah yang menutup istana tersebut sebagai pekuburan Suaminya.

Kamar pengantin yang didominasi warna putih itu nampak mencolok dengan noda darah di lantainya. Louisha merasakan rasa sakit dan sesak yang asing ketika menginjakkan kaki ke dalam. Ia bahkan mulai membayangkan pemandangan ngeri dari Theodore yang meregang nyawa di sana. Seperti apa tatapan kebencian pria itu, Louisha terlalu takut membayangkannya. Tubuh ringkihnya yang tertutupi gaun satin putih melorot jatuh ke lantai yang dingin.

“Putri!” Marina tau-tau berada di belakangnya, meraih tubuhnya ke dalam pelukannya. Louisha tak lagi sanggup menahan isakan tangisnya. Fakta bahwa di kehidupan ini ia telah membunuh pria yang dicintainya haruslah ia terima tanpa penolakan.

“Katakan padaku aku harus apa? Aku membunuh suamiku, Theo-ku. Dan kata mereka aku malah menikah lagi dan mengandung benih dari pria yang bahkan tidak ku kenal”

“Yang Mulia, tolong jangan katakan itu. Anda sangat mencintai Pangeran Lavin, anda bahkan menutup Paviliun Bintang demi menjaga perasaan beliau. Anda akhirnya melupakan Pangeran Theodore sepenuhnya jadi tolong sadarkan diri anda dan temui suami anda sebelum semuanya benar-benar terlambat”

“Aku bukanlah aku. Sudah ku bilang yang membunuh Theodore juga Si Jalang yang menikahi Lavin de Spring bukan aku!” Louisha tak bisa mengendalikan emosinya, dia menghancurkan apa saja yang berada di sekelilingnya.

***

Louisha PoV:

Tak seorang pun mau mendengarkan ku. Ayah juga tidak, Ayahanda membebaskan ku dari kewajiban ku sebagai Putri Mahkota namun sebagai gantinya Beliau mendatangkan tabib, Ahli Sihir sampai Astrolog dari penjuru Kekaisaran untuk membuatku kembali ‘normal’. Hanya seorang Penyihir muda dengan paras tak biasa yang kelihatannya menemukan sesuatu dan agak bisa dipercaya. Aku sudah menemuinya beberapa kali, dan hari ini adalah pertemuan ke-empat kami.

“Anda terlihat akrab semakin saya melihat anda, Guru”

“Kita pernah bertemu.  Tapi bukan kau yang sekarang”

“Maksud anda? Bukan aku? Aku yang mana? Apa jangan-jangan guru tau aku-“

“Gadis yang terlempar dari dunia lain”

“Anda tau? S-siapa anda?”

“Aku sepertimu. Orang malang yang dibuang dari dunia lain”

“Bukan itu. Saya bahkan tidak penasaran apa ada orang sial yang seperti saya. Siapa anda? Saya tau saya mengenal anda”

“Kau mempelajari buku-buku sihir di usia mudamu tentu kau mengenalku. Rubel. Aku tak perlu menyebut nama belakangku, kan?”

‘Rubel. Pria dengan nama belakang yang jika kau ucap dalam hati sekalipun makan ia akan datang bersama aroma kematian’

“Bagaimana bisa pria seagung dirimu ada dihadapanku sekarang?”

“Kau gadis yang menarik, kau bahkan tidak penasaran tentang keberadaanku yang bisa kau lihat dan kau sentuh”

“Itu karena kau tidak pernah dinyatakan mati. Kau penyihir, healer bahkan ksatria suci yang darahnya tak seorang pun berani menumpahkannya. Itu sebabnya sebenci apapun Raja Habel, dia tak pernah membunuhmu”

“Tak ada yang tak tau cerita itu. Ya, Raja Habel sangat membenciku. Aku disini pun karena kebenciannya padaku”

“Apa maksudmu kau sembunyi darinya?”

“Anggap saja begitu. Dia suami mendiang saudariku dan suami saudariku yang lain sekarang ini. Aku sembunyi untuk anak malang yang kelahirannya akan terus diragukan jika aku tetap ditempatku”

“Apa kau punya anak?”

“Keponakanku”

“Dia pasti sangat berharga bagimu”

“Dia juga berharga bagimu”

“Tent- A-apa kau bilang? Apa aku mengenal keponakanmu?”

“Kau yang lain”

“?”

“Kau jelas terfikirkan sebuah nama”

“Rubel de Spring, Raja Habel, keponakanmu adalah… Putra Raja Habel. Pangeran Lavin Blue Spring? S-suami Si Jalang?”

“Kau menyebut dirimu sendiri ‘Jalang’ ? Itu menarik”

“Kau pamannya, kau juga pernah jadi walinya apa artinya aku bisa membicarakan percerainku denganmu?”

“Kau terlihat bertekad untuk menceraikan keponakanmu padahal kau belum pernah melihat rupanya”

“Aku tak perlu melihatnya karena sudah ada pria yang ku sukai”

“Pria yang kau sukai itu tidak ada di dunia ini, Nona”

“Tapi dia hidup di dunia lain. Duniaku. Keponakanmu yang dungu itu membuatku berada disini, kan? Dia penyebab semua ini dan kau bisa memperbaikinya, kan? Kau penyihir yang kuat. Darah peri bahkan mengalir dalam tubuhmu karena itu kau tidak menua”

“Kau tau benar tentang diriku, aku merasa tersanjung”

“Kalau kau merasa demikian tersanjung maka  bantu aku, Paman”

“Paman?”

“Ya. Kau paman suamiku maka kau pamanku juga sekarang”

“Katanya kau ingin bercerai dengan keponakanku?”

“Tentu. Kau juga keberatan dengan panggilan ‘Paman’ maka mari kita putuskan ikatan yang tak diinginkan ini?”

“Andai Lavin tau kau gadis yang cerewet dan berisik seperti ini maka aku yakin dia tidak akan jatuh cinta padamu”

“Aku bahkan tidak yakin wanita jalang itu mencintai keponakanmu yang ‘sok pemilih’ itu”

“Nona, kau sangat-sangat mencintai Lavinku. Cukup cinta untuk menyerahkan nyawamu. Kau membuat perjanjian suci dengan hidup dan takdirmu, hanya untuk kau tau”

“Aku? Tidak mungkin. Aku hanya putri Ayahku yang egois dan serakah”

“Ya, tentu, kau cukup serakah untuk kehidupan dan romansa bersama kekasihmu di kehidupanmu sebelumnya. Aku tidak akan berbelit, kau pada akhirnya harus mengetahui fakta terpentingnya”

“Fakta penting? Katakan! Katakan padaku”

“Kau adalah Ratu Putih yang ditakdirkan untuk mati dan membunuh kekasihmu. Raja Biru”

“Haha!! Apa ini waktunya lelucon siang? Apa anda akan bilang keponakan berharga anda itu Raja Biru?”

“Saya baru saja akan mengatakannya.”

Aku tidak bisa menerima semua fakta  mengejutkan yang dikatakannya sekaligus. Aku merenungkan pembicaraan kami semalaman, dan yang ku dapatkan dari begadang tak sehat itu adalah,, aku menjadi penasaran tentang siapa Lavin bagi ‘diriku’ yang lain’

Louisha mendatangi ruang penyimpanan lukisan. Dan di tengah ruang yang luas, ia melihat potret seorang pria yang tengah memegang anak panah. Tatapan jernih yang menunjukkan kecerdasan dan kehangatan jiwa itu serasa asing dan familiar disaat bersamaan. Ia mendengar dari Marina bahwa ia yang terpesona dengan pemandangan Pangeran Lavin yang tengah berlatih memanah segera mendatangkan seniman terkenal untuk melukisnya dari kejauhan.

‘Aku yang katanya dingin dan tak berbelas kasih itu, aku yang bisa lahap menyantap steak setelah menjatuhi hukuman mati, aku yang merupakan putri seorang tiran itu, aku mendatangkan seniman dari benua biru untuk melukis pria itu. pangeran Lavin yang kelihatan anggun ketimbang kharismatik, pria cantik dengan kulit sehalus sutra dan senyumannya yang seindah pagi hari musim semi, katanya aku yang itu mencintainya dengan segenap jiwaku’

Louisha kembali ke kamarnya, menggeledah laci dan ruangan penyimpanan pribadinya dan seperti dugaannya ia meletakkan buku hariannya disana. Louisha selalu menutup harinya dengan menulis di lembaran kulit pohon tentang hal berkesan yang ia lalui seharian. Dan memang Pria bernama Lavin itu memenuhi semua lembaran catatannya dengan gambaran yang sungguh menggelitik.

‘Suamiku berbicara dengan anak burung pipit hampir seharian. Aku yakin dia hanya membicarakan tentangku yang sibuk bekerja dan mengabaikan janji kami lagi. Dia itu apa dia tak bisa merasakan bahwa aku memperhatikannya seharian lewat jendela ruang kerjaku? Dia yang terang bagai silau mentari menembus dedaun, sangat sulit bagiku untuk tidak terganggu karena keberadaannya’

‘Ayah sangat sering memberiku hadiah cantik dan lebih sering merampasnya ketika aku lebih mempedulikan pemberiannya tersebut, maka ketika aku menjadi sangat menyukai Lavin-ku, aku menyembunyikan perasaanku seperti sebuah peti harta, aku tak bisa mengingat bagaimana hidupku tanpa Lavin dahulu dan aku juga tak ingin membayangkannya’

Sore ini kami berjalan bersama mengelilingi taman, Lavin menggenggam tanganku dengan telapak tangannya yang luas. Aku bertanya apa ini namanya kencan? Dia menjawab dengan berbisik. Katanya ia lebih suka memelukku di ranjang kami, ia mengangkat tubuhku seolah aku hanya selembar bulu baginya. Bagaimana di bisa begitu kuat dan lembut di bagian yang tepat?’

‘Lavin bertanya padaku lagi tentang Pangeran Theo, tapi aku bisa merasakan kecemburuannya bahkan saat aku baru membuka mulutku. Jadi ku katakan padanya bahwa seingatku Pangeran Theo tak lebih tampan darinya. Lavin-ku tetap cemburu, itu karena aku memanggil nama Pangeran Theodore dengan akrab. Jadi aku memanggil namanya ‘Lav‘, ku bisikkan janji untuk menungguinya di kamarku malam ini maka seketika wajah putihnya itu berubah merah. Bagaimana dia bisa begitu manis? Aku rasa aku benar-benar tersihir olehnya.

. . .

Jelas aku jatuh cinta pada pria ini, aku masih tak bisa membayangkan seperti apa dia tapi aku kini mengetahui dengan pasti bahwa aku yang menulis catatan ini begitu mencintai dan menghargainya lebih dari diriku pada Pangeran Theodore.

“Marina”

“Ya, Yang Mulia”

“Siapkan kereta kuda, kita berangkat ke Blue Spring untuk menjemput suamiku”

“No-nona? Apa akhirnya anda bisa mengingat Yang Mulia Pendamping?

“Karena aku bahkan tak ingat wajahnya, aku berharap dengan melihatnya aku bisa merasakan perasaan Si Jalang gila itu”

“Ya? Maaf, maksud anda apa?”

“Kau tidak akan menyiapkan kereta kudanya?

“B-BAIK, Yang Mulia. Saya akan siapkan sekarang juga”

Aku memutuskan melindungi kekasihmu, Jadi kau tolong lindungi kekasihku, Yang Mulia Putri Mahkota.

Bersambung,

.
.
.

Hai! Semoga masih ada yang nungguin cerita ini.
Yang penasaran kemana ajah saya maka saya katakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir saya tidak cukup waras untuk melanjutkan kisah roman geumeuusss-nya Lou-Lav.

Saya cinta Louisha, lebih cinta lagi sama suaminya dan saya tidak ingin merusak cerita ini dengan emosi saya yang tak stabil.

Bagaimana sekarang?

Yeah, saya lumayan waras sekarang, saya memotong rambut, memakai riasan dan memakai pakaian cantik.

Saya keluar dari benteng pertahanan terakhir dan mencoba meyakinkan diri bahwa saya akan bertahan setidaknya untuk hari ini dan besok. Saya berharap pemikiran seperti itu kelak akan membawa saya pada penghabisan cerita yang lebih bewarna. Sebab saya merasa hidup saya selama ini hanya dipulas warna hitam dan kelabu.

Doa’in Author yach agar selalu ‘waras’, supaya kita ketemu penghabisan kisah cinta Putri Louisha dan Pangeran Lavin-nya.

Salam Penuh Cinta,

-Selingkuhannya Lavin-

Diposkan pada kisah cinta

Sampah Sebulan Lalu

Saya mengenali diri saya sendiri saat saya kehilanganmu,

Saya tidak menangis, saya hanya meneteskan beberapa butir air mata.

Saya merelakanmu, meski saya akui ada rasa kosong saat kau tak ada.

Saya membiarkan barang-barang mu satu-dua minggu,

Bukan karena berharap kau datang mengambilnya,

Hanya saya tak ada waktu untuk mengelola perbendaharaan emosi yang terlanjur mati.

Saya tidak mengutukmu tapi saya juga tidak bisa mendoakanmu.

Kau tau saya sudah lama tidak berdoa,

Bahkan kini saya sadar bahwa saya telah lupa caranya berdoa.

Saya meninggalkan barang-barangmu di depan gerbang sebulan kemudian,

Dan yang saya dapatkan hanya teguran untuk memilah sampah berdasarkan kategori tertentu.

Sampah. Saya suka istilah itu.

Sisa dari perasaan yang jika kita dipaksa menamainya,

Sampah.

Saya mulai mengumpatmu,

Manusia Tolol, bukankah harusnya kau bawa juga sampahmu bersamamu?

Diposkan pada kisah cinta

Udara dan Dedaun Kering yang Jatuh

Jatuhnya dedaun kering, tertiup angin ia terbang ke arahmu.

Kau menengadah dengan rambut kelammu bergerak ke bawah menyapu tanah di bawah ayunan,

Tawa riangmu tatkala mendengar lelucon jalanan,

Kau yang terkesiap ketika mendengar cerita seram sembari menatap api unggun perkemahan,

Kau yang setiap ekspresi buatanmu membuatku tak henti memperhatikanmu tiap waktu,

Tanpa sadar aku mengawasimu seperti bunga matahari pada Sang surya.

Apa karena kau demikian indah?

Apa karena kau begitu ceria dan cerah?

Kau seperti menyinari sekelilingmu dan membuatku hangat.

Kerinduan saat kau diluar jangkauanku membuatku terbangun di tengah malam,

Sakit yang ku derita karena kau tidak pernah melihatku sekalipun,

Putus asaku karena aku mungkin tak akan pernah memiliki kesempatan lebih dekat ke sisimu,

Aku yang tak pernah punya keberanian sekedar menyapamu,

Yang ketika kita nyaris bertemu pandang, aku menjadi malu dan berbalik memunggungimu.

Kau terlalu bersinar sedangkan aku seperti Si Buruk Rupa yang hidup dalam kegelapan.

Aku melupakan siapa diriku ketika melihat citramu yang mempesona.

Akan lebih baik jika aku sekedar udara pagi yang menggerakkan rambutmu,

Atau sekedar dedaun kering yang jatuh dan tergelincir di rambutmu.

Menepis kenyataan bahwa kita berbeda dunia.

Diposkan pada kisah cinta

Api Senja

Aku tak bisa membawamu kembali,

Bahkan dengan menyakitimu, membuatmu berdarah-darah.

Aku tak bisa melepaskanmu,

Bahkan ketika aku tak bisa menggerakkan jari-jari kakiku untuk berbalik dan membiarkanmu pergi.

Aku membencimu,

Untuk waktu yang kama kecewaku menumpuk membentuk gunungan dendam.

Tapi aku masih tak bisa melepaskan perasaan ini,

Perasaan penuh yang hanya ku rasakan saat kau ada disini.

Keyakinan bahwa kita masih baik-baik saja bahkan setelah kita saling melukai,

Keraguan bahwasannya aku bisa menjalani kembali kehidupan lamaku sebelum aku mengenalmu dahulu,

Saat wajahmu sekedar gambaran asing,

Saat suaramu sekedar keriuhan dunia diluar duniaku yang sepi.

Aku masih ingin bersamamu untuk lebih membencimu,

Cukup benci untuk membunuhmu dan mengunyah hatimu.

Kalimat-kalimat yang pernah membuat kita ada disini,

Janji-janji yang menjelma penghianatan,

Gambaran dua orang yang saling berpegangan tangan,

Ingatan tentang bagaimana kau tersenyum dengan wajah itu hari ini,

Aku rasa itu cukup untuk menikam jantungmu dengan belati.

Diposkan pada kisah cinta

Membawamu Kembali Padaku, Part-23

Part 23. Kau Mimpi Buruk Yang Menjelma Kenyataan

‘Apa artinya senyumanmu ketika kau hanya menggodaku dan berlari ketika aku mengejarmu. Membayangkan menangkap punggungmu dan rebah dipelukanmu membuatku merasa nelangsa bahkan setelah aku terbangun dari tidurku.
Siapa kau? Aku ingin melihat wajahmu bukan sekedar aromamu yang kini mulai membuatku muak ketika mengingatnya. Apa kau mencintaiku setidaknya saat kau membuatku mengandung anakmu?
Apa aku tidak cukup mencintaimu hingga kau meninggalkanku begini?
Aku membencimu, membenci dan mengutukmu tak berbahagia,
Semoga kau tidak dicintai dan diabaikan,
Semoga kau merasakan kesakitanku ribuan kali lipat hingga kau berfikir mati lebih baik untukmu’

***


“Putri, apa rasa mualnya sudah membaik?”

“Ya, berkat ramuan yang Bibi buatkan. Hanya… Anak ini, dia menjadi semakin kuat dan lebih sering bergerak. Menurutku dia,, seorang pangeran”

“Anda merasakannya?”

“Hm. Mungkin aku akan bisa melihat wajah ayahnya melalui dia”

“Putri, anda apakah begitu menginginkan mengetahui siapa ayah anak anda?”

“Bukankah itu wajar? Bahkan untuk sekedar membenci, aku mesti tau bagaimana wajah orang itu. Aku sangat ingin mengutuk kekurangannya, bukankah itu kekanakan?”

“Dia mungkin tak memiliki kekurangan untuk anda kutuk”

“Putri, saya memiliki caranya, mengembalikan ingatan anda akan waktu yang berselisihan dan terlupakan”

“Bibi tau? Bagaimana bisa- baiklah, saya tau Bibi seorang penyihir sebelum menjadi kepala dayangku tapi tetap saja-“

“Saya hanya menunggu, saya takut mengambil keputusan salah dua kali hingga melukai tuan yang harusnya saya lindungi”

“Apa Bibi sedang membicarakan mendiang ibuku?”

“Ya. Ada alasan mengapa Kaisar meninggalkan Nyonya Ertha dan Anda”

“Alasan? Bukankah itu hanya tentang keegoisan dan keserakahan Ayahku?”

“Saya akan memceritakan semuanya jika anda siap mendengarkan”

“Katakan. Semuanya. Saya selalu siap”

***

“”Kak, kau harus menjawabnya. Jadilah istriku maka aku akan hidup hanya untuk kakak”.

Beatrich menatap kedalam mata jernih Lavin dan untuk sekian detik ia mengambil keputusannya dengan kepala dingin.

“Yang Mulia, saya akan menjawab setelah berbicara dengan Yang Mulia Permaisuri”

“Kak-“

“Sebentar, saya akan kembali segera” Beatrich turun dari pembaringan, meraih mantelnya dan memakai sekenanya sekedar menutupi punggung dan bahunya yang terbuka. Ia menunduk pada Permaisuri, mempersilahkan Bibinya berjalan lebih dulu menuju ruangan disebelah kamar yang difungsikan sebagai ruang baca pribadi Lavin.

“Setidaknya tak seperti Pangeran, Kau masih menghormatiku sebagai Ratu negeri ini”

“Bibi, Saya mohon ampun. Yang akan saya utarakan pada Bibi mungkin akan sangat menyakiti hati-“

“Bea, ada apa- apa bahkan kau-“

.

Lavin berusaha menajamkan pendengarannya namun sekeras apapun dia mencoba ia tak bisa mendengar apapun.

‘entah mengapa aku merasa ini pernah terjadi dan sangat membuat kesal’ Batinnya.

Krit. Pintu terbuka, Permaisuri muncul dengan raut tak terdefinisikan. Lavin secara natural menundukkan pandangannya, memberi jalan.

“Kita akan bicara lagi, tentang kunjungan Tuan Putri Nathaline, biarkan Way yang mengurusnya”

“Kemurahan hati Ibu Suri memenuhi bumi Blue Spring”

“…”

Bea muncul setelah Ibu Suri pergi dengan dayang dan pelayannya. Lavin mendapati rona merah dipipi kiri gadis itu.

“Kak- apa jangan-jangan Ibu menamparmu?”

“Bukan. Ini karena dingin. Aku akan kembali ke ruanganku,”

“Setidaknya katakan padaku apa yang kau dan Ibu bicarakan didalam sana”

“Bibi akan membatalkan pertunanganmu, kau bisa berhenti dengan aktingmu yang luar biasa itu”

“Kak, kau marah?”

“Kau fikir tidak?”

“Maaf”

“Kita bicarakan nanti setelah Bibi membuat keputusan”

“Baiklah, saya sungguh menyesal melibatkan kakak seperti ini”

“Setidaknya Bibi tak mencurigai tentang halusinogen dan lainnya” Setengah bergumam Beatrich meninggalkan Lavin dengan langkah lunglai seolah kakinya tak menapaki tanah.

Beatrich sampai di ruang doa. Ia jatuh terduduk di lantai altar yang dingin dengan betis terbuka karena tak sempat berpakaian rapi. Rambut panjangnya terurai basah oleh keringat. Ia menangis terisak membenamkan wajah diantara kedua lutut hingga tubuhnya bergetar.

Lavin meminangnya bahkan sampai bersumpah tapi ia dengan tegas menolaknya.

“Bea, ada apa denganmu? Apa kau melakukan kesalahan lain?”

“Bibi, saya- saya mencintai Lavin. Saya mohon ampun, Bibi. Saya tau harusnya tak begini”

PLAK!

“Cinta katamu? Apa yang seperti ini pantas kau ucapkan pada adik sepupumu?” Beatrich mengabaikan perih luka tamparan di pipinya, ia menjatuhkan tubuhnya lebih dalam lagi hingga rambut panjangnya menyentuh lantai.

“Kau- kau menerima sumpahmu sebagai Penguasa Menara Sihir, mengapa kau melakukan sumpah seberat itu jika kau mencintai Lavin? Kau tau kau tak boleh melanggarnya- Apa Lavin bahkan tak tau jika bayaran untuk pelanggaran sumpah adalah kematian?”

“Saya tidak akan mengambil langkah gegabah yang akan melukai diri sendiri juga Lavin. Saya yang akan pergi karena rumor buruk mungkin akan menyebar dan mencemari nama keluarga kerajaan”

“Tidak. Lavin yang membuat ini semua, Aku akan menghukumnya sekaligus menghentikan semua kekacauan yang terlanjur ditimbulkan”

“Kebaikan Yang Mulia sungguh tak berbatas,”

“Jadi,, kalian tidak sungguhan melakukannya, kan?”

“Tentu tidak, Bibi. Lavin hanya mencari masalah untuk pembatalan pertunangannya”

“Baiklah, setidaknya kalian tidak benar-benar melakukan hal memalukan. Tentang pertunangannya, biarkan rumor palsu ini sampai ke telinga Putri Nathaline agar Yang Mulia Raja tak memiliki alasan untuk menentang pembatalan pertunangan. Kau, apa kau sungguh baik-baik saja dengan itu?”

“Tentu, saya hanya perlu melakukan upacara pemurnian dan penebusan dihadapan para tetua dan pendeta”

“Bea, sudah saatnya kau melepaskan tanganmu. Lavin akan menemukan kebahagiaannya sendiri tanpa kau perlu mengorbankan dirimu lebih banyak lagi”

“Ya. Saya juga percaya itu, Bibi”

Beatrich menyadarkan dirinya dengan menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam kolam pemurnian. Sambil berusaha melenyapakan penyesalan dan kesedihan dalam hatinya ia memutuskan untuk melepaskan perasaannya pada Lavin sekaligus.

‘Aku melihat sesuatu yang tak harusnya ku lihat. Kehidupan lain, potongan waktu yang hilang dari kami. Lavin menikahi putri dari Achrigen, ia mencintai sepihak hingga akhirnya terbalaskan, ia terluka dan merasa kesepian tapi ada beberapa moment saat ia tersenyum dengan kedua matanya, bukan sekedar senyum palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi betapa takut dan rapuhnya ia. Lavin mengambil keputusan memutar waktu meski tak sepenuhnya berhasil, wanita itu lebih membutuhkannya dari pada keinginanku memuaskan rasa kosong dalam hati ini. Lavin mungkin akan memetik buah terlarang itu lagi, mungkin ia akan jauh lebih terluka begitupun wanita itu dan anak mereka tapi,,, aku lebih tau bahwa Lavin akan sanggup melaluinya.
Aku mencintainya dan sudah cukup berbahagia sendirian karenanya, tanpa Lavin ketahui aku menikmati kebersamaan kami seperti aku mencuri kue manisnya semasa kami kecil dahulu. Perasaan yang menyedihkan ini aku telah menyimpannya dalam waktu lama dan akan ku sembunyikan selamanya. Dewi, tolong biarkan aku memutuskan begitu, hamba mohon’

Seseorang melalui jalan panjang yang gelap penuh kesengsaraan, mungkin orang itu adalah Beatrich, mungkin juga Louisha yang akhirnya menemukan jalan panjangnya untuk pulang.

Dengan bantuan Bibi Martha ia akhirnya mulai bisa membuka pintu tertutup itu. Secercah cahaya yang menyinari jalan dengan bayangan dirinya dan seorang pria berjalan beriringan.

“L-la-La-Lav-in. La-Vvin” ia mengeja nama yang menjadi penutup tabir ingatan asing tersebut.

“Putri, saya tau anda tak bersungguh-sungguh dengan pengusiran ini, bahwa anda sama terlukanya dengan saya ketika kita tidak bisa bersama-sama melewati rasa sakit ini. Saya mencintai anda dan semua berawal dari keegoisan saya yang menginginkan hati anda. Jika saja saya tak membelokkan arah perasaan anda sehingga anda tetap pada tujuan untuk mengembalikan kekasih anda, tentu kita tidak akan sedemikan hancurnya.
Saya bukan ayah yang baik bagi anak kita, bukan juga suami yang mampu menopang anda. Segera setelah poros waktu berputar menuju masa lalu, segera pula anda akan melupakan semuanya. Saya harap anda terbangun dengan perasaan lega dan tenang maka dengan begitu cinta kita baru benar-benar dimurnikan. Louisha, saya mencintai anda dan tak pernah sedetik pun tak berbahagia karenanya”

“Aku bahkan ingat surat yang Si Bodoh itu tulis terakhir kali. Lavin. Suamiku. Kau bahkan tidak melakukan pekerjaanmu dengan benar, dia berbahagia sendiri tapi membuangku begini”

“Putri, tenangkan dirimu, Anda- apa anda akan menemui beliau sekarang juga?”

“Lantas? Aku ingin sekali memukul kepala belakang pria brengsek itu!”

“Beliau sudah pasti melupakan anda- sihirnya belum sempurna kerena beliau kehilangan lebih dari separuh kekuatannya ketika menggunakannya. Itu sebabnya anda datang bersama kandungan anda bukannya kembali ke dalam diri anda di masa sekarang”

“Apa lagi maksudnya ini? Apa yang salah dari- benar. Jika sihirnya sempurna tentu di masa ini aku mustahil mengandung anak kami sementara kami bahkan belum pernah bertemu”

“Ya. Diri anda yang mestinya hidup di tempat ini, mungkin saja berada disuatu tempat dan tersesat. Atau…”

“Atau?”

“Ia bertukar dimensi waktu menggantikan anda bersama Pangeran Lavin yang menikahi anda”

“Tidak. Itu yang terburuk. Aku- aku yang itu jelas tidak mengenali Lavin. Oh! Apa yang terjadi pada suamiku yang malang. Bi, aku tak menginginkan tempat ini atau Lavin yang bahkan belum pernah ku temui. Aku ingin kembali, aku harus kembali pada Lavin yang pasti sedang kesakitan sendirian”

“Yang Mulia, tolong tenang dan dengarkan saya! Saya mohon, Yang Mulia. Anda tak bisa menyelesaikan apapun dengan sikap tergesa dan gegabah”

“Tapi Lavin- Lavin membutuhkanku-“

“Ya, saya tau itu dan saya akan berusaha membantu anda”

***

Seperti kata Bibi Martha, Louisha muda yang bahkan tak mengetahui apa-apa tiba-tiba dilempar ke dimensi berbeda. Ia jatuh tepat di atas tanah tempat Louisha dewasa terjatuh saat berusaha menemui Lavin.

Louisha muda tak sadarkan diri selama dua minggu dan begitu terbangun, ia dikelilingi anggota keluarga kerajaan termasuk juga Ayahandanya, Kaisar Roan de Achre.


“Putriku, akhirnya kau siuman” Kaisar Roan memeluknya erat hingga Louisha merasa sesak tenggelam dalam rengkuhan tubuh kekar Sang Ayah.

“Aku baik-baik saja, Ayahanda. Aku hanya terjatuh dari kuda jadi Anda tak perlu secemas ini” Kaisar melepas pelukannya, ia menatap putri kesayangannya itu dengan tatapan prihatin.

“Mana mungkin hanya jatuh, kau kehilangan bayimu, Penerusku”

“Penerusmu? Apa ayah berusaha mengatakan bahwa aku akan jadi penerus Ayah bukannya kakak-kakak?”

“Putri Mahkota kita ini mengatakan lelucon yang murahan maka dia sudah kembali sehat, Saya permisi kembali ke kediaman kalau begitu, Ayahanda Kaisar” Jane, Putri tertua bahkan tak menutupi iri dengkinya lagi, Louisha bahkan merasa ini aneh. Kakak tiri yang begitu membencinya memanggilnya ‘Putri Mahkota’ dengan wajah serius.

“Bayimu, Nak. Dia sudah tiada, tak ada gejala pendarahan tapi tabib bilang kau sudah tidak lagi mengandung”

“Ayah, aku pernah mendengar rumor murahan yang mengatakan ‘Putri Louisha mengencani ksatria-nya’ hanya kerena aku dan Sir Steve sangat dekat saat dia mengajariku berkuda tapi aku baru pertama kali ini mendengar rumor kehamilan- ah tidak, tadi Ayah baru saja bilang mengenai ‘keguguran’, kan? Ayah, saya putri yang bermartabat mana mungkin saya mengandung sementara saya belum menikah”

“!”

“Ayah, apa Ayah harus menatapku begitu? Gunakan ekspresi ini saat Ayah mengumumkan berita pernikahanku dengan Prince Theodore”

“Oh Ya Ampun! Apa yang kau maksud dengan menyebut nama mendiang suami pertamamu, Putriku? Suami kedua mu bahkan masih hidup dan kau baru saja kehilangan bayimu bersamanya” Permaisuri yang sedari tadi hanya menatapnya bingung kini membuka mulutnya dan yang dikatakannya jauh lebih membingungkan.

“Ibu Ratu, bicaralah perlahan agar ananda bisa memahaminya”

“Kau pergi untuk menemui suami yang kau asingkan, bukan? Kau terjatuh dari kuda dan menyebabkan kau kehilangan bayimu” Jane yang masih belum pergi menjelaskan lebih ringkas dengan kalimat tanya yang makin membuat Louisha bingung.

“Yah? Yang Mulia Kaisar?” Louisha menatap Sang Ayah memohon penjelasan.

“Marina!” Bukannya menjelaskan Sang Ayah malah berteriak memanggil dayang Louisha yang sepertinya sedari tadi menunggu di luar pintu.

“Hamba, Yang Mulia!” Marina tergopoh-gopoh menghadap siap menerima perintah.

“Panggilkan tabib dan penguasa menara sihir, ku rasa putriku terluka sekaligus terkena sihir”

“Baik, Yang Mulia”

“A-aku kenapa? Jelas-jelas kalian semua berbicara omong kosong, Ayah juga- dari pada itu saya pergi untuk menemui Bibi Martha setelah menerima surat darinya”

“Yang Mulia, Maaf mengganggu tapi telah datang surat dari Blue Spring” Seorang ksatria menghambur masuk dengan tidak sopan. Dari jubahnya siapapun tau bahwa ksatri tersebut petugas pengantar cepat. Segel Blue Spring dengan ikat berwarna merah menunjukkan surat sangat penting, Kaisar menerimanya untuk diberikan pada Louisha yang tak mengerti mengapa harus ia yang membacanya.

“Apa lagi ini?”

“Mungkin itu surat dari suamimu” jawab Kaisar menyebutkan kata ganti orang yang benar-benar tidak terduga. Suami, katanya.

“Suami? Apa Ayah bahkan membuatku menikah tanpa sepengetahuanku?” Louisha nyaris berteriak frustasi mengabaikan tatakrama kekaisaran.

. . .

Bersambung,

Diposkan pada kisah cinta

Membawamu Kembali Padaku, Part-22

Part 22. Sumpah

‘Ketika Takdir sekali lagi mempermainkan kita, kau dan aku saling mencari dalam labirin waktu yang menyesatkan, aku mengenalimu pada pandangan pertama kala aromamu merangsang ingatanku akan kenangan tak dikenal yang berhasil bertahan dalam ketiadaan masa.

Lavin, mungkin kau, sejak awal kau diciptakan untukku. Kau yang berubah jutaan kali pun, aku masih mengenalimu lewat debaran jantungmu.

Kau belahan jiwaku, fakta bahwa aku lagi dan lagi, terus menerus, berulang kali jatuh cinta dan menemukan kebahagiaanku pada dirimu adalah karya Tuhan yang indah tak terkata.

Kini, maukah kau duduk tenang dan menerima cintaku saja?

Dikehidupan ini, aku yang akan mendatangimu, dengan cintaku, keyakinan dan kepercayaan diri bahwa akhirnya aku bisa berjanji untuk selalu mendampingimu.

Mengucapkan kalimat yang sangat ingin kau dengar tapi tak pernah berani ku ucapkan,,,’


“Aku jatuh cinta padamu. Pangeran, maukah anda menikahiku?” Lavin mengerjapakan bola mata kelamnya, lamaran tak terduga di malam kedua pesta kedewasaannya adalah kejutan yang benar-benar membuatnya tak bisa berkata-kata. Seluruh tamu undangan pesta seketika mencipta hening menunggu jawaban dari pangeran yang menjadi bintang malam ini. Beberapa gadis nampak kecewa karena tak mendapat kesempatan berdansa di malam sebelumnya kini menjadi lebih kesal karena pria yang menarik hati mereka itu kini dilamar secara terbuka oleh putri dengan sinar kecantikan yang mampu meredupkan  kegemerlapan lampu ballroom. Tak seorang pun menyangkal bahwa hanya dalam posisi saling berhadapan keduanya nampak bagai lukisan dalam frame saat ini.

“Pangeran, anda bahkan tak ingin menjawab? Apa saya sudah lancang dan membuat anda marah?”

“Bukan itu, tolong jangan salah faham”

“Lantas? Apa saya tidak menarik hati anda?”

“Saya tidak menikahi kekasih atau tunangan pria lain”

“Anda mengetahui tentang hubungan masa lalu saya dan Pangeran Theodore? Itu suatu kehormatan bagi saya karena Pangeran bahkan mengenali saya”

“Rumor beredar dengan cepat tapi saya tidak mempercayai hati yang berpindah dengan mudah”

“Melupakan. Saya memilih melupakan ingatan yang tidak saya sukai. Tolong anda jangan mengungkit hubungan terdahulu saya yang bahkan kandas dengan cara memalukan”

“Bagaimana jika,, seseorang tetap merasa hangat pada perasaan asing yang bahkan membuat jantungnya kesakitan”

“Apa anda berusaha mengatakan bahwa anda telah memiliki seseorang dalam hati?”

“Saya akan berdansa satu lagu dengan anda agar kita bisa berpisah tanpa canggung,” Lavin memilih tak menjawab pertanyaan tersebut.

“Anda pria yang cerdas dan bijaksana, bagaimana ini? Saya makin menginginkan anda” Bisik wanita berambut hitam kelam dengan bola mata coklat itu senada menggoda.

‘akan ku cukil mata perempuan yang melihat wajah ini, kau milikku dan hanya aku yang berhak menikmatimu, Suamiku’

‘ingatan apa lagi ini? Siapa wanita mengerikan yang tak berbekas dalam hidupku tapi terus mengacaukan isi kepalaku?’  Lavin memejamkan matanya berusaha larut dalam alunan lagu. Setelah sebuah lagu selesai ia segera menemui Ayahanda dan Ibunda Ratu untuk pamit meninggalkan pesta.

“Hormat pada kesejukan embun Blue Spring, Raja Habel”

“Ku terima hormatmu”

“Menundukkan pandangan dari Kecantikan  surya pagi Blue Spring, Ratu Gaia”

“Selamat ulang tahun, Putraku” Ratu Gaia menghampiri Lavin untuk memeluknya.

“Terimakasih, Ibunda. Pestanya luar biasa, saya bersenang-senang hingga merasa lelah. Saya pamit lebih dulu jika Yang Mulia Raja dan Permaisuri mengizinkan”

“Kau tumbuh dengan baik dan mewarisi darah Ibumu. Ratu Gaia, kau setuju tentang Lavin yang mirip Panglima Rubel, bukan?”

“Yang Mulia-“

“Apa yang salah jika dia mirip pamannya, Ertha bahkan memuja paras kakaknya”

“Yang Mulia-“

“Saya selalu berterimakasih atas kemurahan hati Baginda Ayah, kalau begitu saya mohon pamit,”

Lavin mendengar rumornya meski saat itu ia masih sangat muda. Ayahnya memiliki kebencian pada hubungan dekat Ibu dan pamannya. Semua orang tau Putri Ertha dan Pangeran Rubel bukanlah saudara kandung, kedua orang tua mereka menikah dan menjadikan keduanya bersaudara kendati demikian Pangeran Rubel sangat menyayangi Putri Ertha.

“Ibu, apa saya mirip paman?”

“Paman? Lavin, katakan pada Ibu dari siapa kau mendengarnya? Bahwa kau mirip pamanmu?”

“Orang-orang. Dayang dari istana Ayahanda bahkan bilang aku putra pamanku bukannya putra Ayah” Ratu Ertha menahan air matanya sekuat tenaga ia berusaha tetap tersenyum. Dirangkumnya wajah mungil putranya yang tampan.

“Mereka mengatakan itu karena kau dan Paman Ru adalah pria yang tampan. Maksud Ibu,, kau memang tampan tapi kau mirip Ayahmu. Lihat, matamu dan bibirmu sangat mirip beliau, kan?”

“Hm. Mirip Ayah”

Lavin mengerjapkan matanya. Fikirannya melayang menuju ingatan lama yang menyesakkan dan itu hanya memperparah rasa sakit di jantungnya. Ratu Ertha yang kabarnya sangat dicintai Baginda, tak ada yang mengetahui bahwa sebaliknya, ditahun-tahun terakhirnya Ratu yang Mulia itu menghabiskan hari-harinya bagai hukuman. Pria yang katanya mencintainya, Pria yang mempersembahkan istana mawar, pria itu mencurigai hatinya bahkan menafikan darah daging yang mereka bagi berdua. Lavin telah cukup dewasa saat ia memahami alasan ayahnya membencinya.

“Pangeran, anda merasa sakit lagi?”

“Tidak, Bee. Aku hanya merasa pengap di dalam”

“Baginda,, Beliau membicarakan perjodohanmu dengan Princess Nathaline bersama para tetua dan pihak Diora”

“Berapa tepatnya Beliau menjualku?”

“… Pertambangan biji besi”

“Apa itu nominal yang pantas untuk Pangeran Terasing sepertiku?”

“Bicaralah dengan Ibu Suri agar mereka membatalkan perjodohannya”

“Itu tidak diperlukan,, seolah-olah aku berhak menentukan hidupku”

“Pangeran-“

“Kirim tiga orang ksatria ke arena pelatihan, aku membutuhkan lawan berlatih”

“Sekarang?”

Lavin menjawabnya dengan melepas semua atribut di tubuhnya. Ia memakai seragam latihan dan mengambil pedang favorite-nya. Beatrich menghela nafas berat, Pangerannya mungkin akan terluka lagi dan butuh diobati malam ini.

Lavin, sepupunya yang biasa manis dan patuh itu berubah sepenuhnya setelah beberapa bulan menderita sakit hingga tak sadarkan diri. Beatrich belum bisa memberitahu apa yang dilihatnya ketika ia membuka segel di jantung Lavin.

“Siapapun kau, tolong jauhkan Lavinku dari perempuan berambut coklat. Lavinku bisa mati jika sampai bertemu perempuan itu”  Beatrich mengenali suara perempuan itu bahkan juga wajahnya yang samar-samar. Ratu Ertha.

Pembicaraan pernikahan antara Lavin dan Putri Nathaline sampai pada finalnya. Lavin bahkan tak mencoba menolak ketika keduanya disandingkan di upacara pengikat (pertunangan). Bulan baik untuk melangsungkan pernikahan masih harus menunggu lebih dari tiga purnama. Dengan alasan mengembangkan hubungan Putri Nathaline diperbolehkan keluar masuk istana bahkan paviliun pangeran, mau tak mau, suka tak suka Lavin mesti menyambut perempuan itu. Seperti hari ini, sayangnya Lavin dalam keadaan yang kurang baik. Semalaman ia merasakan sakit di jantungnya hingga ia memaksa Beatrich mencampurkan halusinogen ke dalam dupa pengharum ruangan. Lavin masih mengurung dirinya di dalam kamar bahkan ketika pelayan mengantarkan pakaian untuk ia kenakan saat menyambut tunangannya siang ini.

“Yang Mulia, tolong hamba, Pangeran bahkan memecahkan keramik untuk mengusir semua dayang” Dayang yang tadi mengantar pakaian melapor pada Ibu Suri.

“Oh Putraku, ada apa dengannya belakangan ini?” Ibu Suri seketika menghentikan pekerjaannya memeriksa laporan harian Istana demi mendengar keadaan putranya.

“Ikuti aku, Pangeranku mungkin hanya habis bermimpi buruk. Pastikan tak seorang dayang pun membicarakan ini, tak ada untungnya membiarkan berita sumbang sampai pada Putri Nathaline yang akan berkunjung hari ini”

“Baik, Yang Mulia”

Ibu Suri mengetuk pintu kamar Lavin dengan tanpa jeda. Ia memanggil nama putranya namun tak ada jawaban. Pelayan yang menyimpan kunci cadangan tiba, pintu pun dibuka tanpa kesulitan tapi ketika masuk ke dalam yang ditemukan Ibu Suri adalah pemandangan tak terduga.

Lavin dan Beatrich tidur dibawah satu selimut. Lavin tak memakai atasan begitupun Beatrich yang hanya memakai selapis pakaian.

“Perbuatan keji apa yang kalian berdua lakukan?!”

“I-ibu?!” Lavin seketika terbangun mendengar teriakan Ibunya.

Ratu Gaia meraih pedang yang tergantung di dinding, dengan langkah penuh amarah mengabaikan telapak kakinya yang menginjak pecahan keramik dan berdarah ia mengayunkan pedang tepat dihadapan Beatrich yang terbangun dan seketika menutupi dirinya dengan selimut.

“Yang Mulia, mohon tenangkan diri anda, Saya yang membujuk Kak Bea, jadi tolong hukum saya saja jangan kakak”

“Kau- kau memanggilnya Kakak bahkan setelah- apa aku tidak mengajarkanmu menjaga dirimu juga saudarimu? Bagaimana pun Bea adalah saudarimu, apa bahkan kau waras?”

“Saya mencintai Pangeran Lavin, Bibi. Saya yang bersalah dan pantas atas kematian”

“Kau juga? Aku menempatkanmu di sisi Lavin untuk melindunginya sebagai saudari tapi apa katamu tadi? Cinta? Apa kalian bahkan menyadari betapa kotornya yang kalian lakukan?”

“Kami tidak benar-benar sedarah, Ibunda juga tau itu. Saya bisa menikahi Beatrich sekarang juga meski Ibunda menentang”

“LAVIN! Kau- kau sudah bertunangan, Nak” Ibu Suri mengingatkan akan ikatan yang terlanjur dibentuk.

“Tepatnya saya belum menikah, Ibu. Kak Bea yang akan saya nikahi bukan Princess Nathaline atau siapapun” Seru Lavin tak gentar, tanpa keraguan dalam pernyataannya.

Beatrich menatap Lavin, di kedua mata pria itu untuk pertama kalinya ia bisa melihat masa depannya berada disana. Lavin yang selama ini tak pernah membuka suaranya, pria itu kini dengan lantang berseru ingin memilikinya, pada Ibu yang sangat dihormatinya yang ia selalu rela menyerahkan nyawanya, Lavin yang selalu tenang bagai air di danau terdalam itu kini meraih telapak tangannya dan meletakkannya di kepalanya.

“Saya Euridian Lavin, berjanji menjadikan Beatrich Rosalia Lavina sebagai istri saya, mencintai, menghormati dan menjadi pelindungnya”

“Lavin! Batalkan! Batalkan sumpahmu atau kau akan melihatku mati”

“Kak, kau harus menjawabnya. Jadilah istriku maka aku akan hidup hanya untuk kakak” mengabaikan sumpah Ibu sambung sekaligus bibinya Lavin membuat sumpah lain yang lebih tegas dan drastis.

‘Kau, menawarkan gunung permata bahkan mungkin lebih berharga dari apapun, hatimu yang dipenuhi mimpi dan kebebasan, Aku selalu mengagumimu yang sepeti itu.
Saat kau memanggilku ‘kakak’ kau mempermainkan hatiku seperti sebuah batu yang kau lontarkan ke dalam air sungai,
Lantas kau menjadi seekor ikan yang suka rela masuk ke dalam jalaku,
Kau memutus ikatanku dengan duniaku sebagai ganti dari kebebasan mutlak yang kau impikan,
Aku bukan orang yang mudah melepaskan,
Aku juga tak mengenal kata menyerah dalam usahaku,
Jika ku anggukkan kepalaku,
Aku bertanya-tanya akan seberat apa penyesalannya untukmu kelak?
Sebab ku rasa aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi bahkan jika kau memohon dengan tangis darah sekalipun’

Bersambung,

Diposkan pada kisah cinta

Membawamu Kembali Padaku, Part-21

Part 21. Pria yang Hilang dalam Potongan Waktu

‘Aku memimpikan pria asing itu lagi. Pria yang memelukku dari belakang, bernafas di tengkukku dan menangis. Saat aku hendak berbalik melihat wajahnya, aku terbangun dari mimpi itu dengan mata basah berurai air mata. Yang tersisa dari kepedihan ini hanya kesal dan sesak dalam dada. Sebenarnya siapa ayah dari bayi yang ku kandung? Aku melupakan jeda waktu yang penting, mungkin saja saat itu aku jatuh cinta dan dicintai? Atau… Aku mencintai dan dibuang. Aku membenci sekaligus merindukan pria asing yang hanya ku ingat aromanya’

“Kau yakin aku pergi meninggalkan istanaku pagi buta tanggal 14 bulan ke 12?”

“Ya, Yang Mulia pergi setelah menerima sebuah surat”

“Surat? Dari mana asal surat itu?”

“Ku rasa dari dayang pengasuh Anda, Nyonya Martha”

“Bibi Martha? Kalau begitu aku harus menemuinya, siapkan keberangkatanku”

“Itu tak perlu, Yang Mulia- Ny. Martha sudah tiba malam tadi, ku rasa beliau di paviliun tamu menunggu izin menemui Anda”

“Bibi disini? Kalau begitu siapkan mantelku, aku harus menemuinya sekarang juga”

“Baik- tapi mengapa anda begitu ceroboh belakangan ini? Setidaknya Yang Mulia harus mandi dan berganti pakaian”

“Memangnya siapa yang akan mempedulikan seorang putri yang bahkan mengandung tanpa suami”

“Putri, anda membuat saya sedih-“

“Aku baik-baik saja kecuali aku ingin sekali menghajar ayah anak ini”

“Y-ya?”

Bibi Martha, pelayan yang mendampinginya di istana asing tanpa Ibunya, Air mata haru menetes dari sepasang mata indah itu, Louisha memeluk dayang pengasuhnya dan menangis terisak di pundak ringkih wanita tua itu.

“Nona, anda sudah tumbuh dewasa dan cantik, saya merindukan anda, Putri Mahkota”

“Bibi rindu tapi tak pernah mengirim surat sekalipun setelah Ayahanda membebaskan anda dari tanggung jawab”

“Saya- saya fikir saya bisa mengubah sesuatu tapi ternyata tidak. Anda- pada akhirnya menemui takdir naas anda”

“Saya tidak mengerti, takdir apa yang Bibi Maksud” Tatapan Bibi Martha jatuh ke perut Louisha yang mulai membuncit, gaun kebesaran yang ia kenakan nyaris tak bisa menyembunyikan kandungannya. Louisha meraba perutnya dan tersenyum.

“Anehnya saya tak membenci bayi ini. Dia sama sekali tidak menyulitkan, dia bergerak seharian dan menjadi tenang begitu saya akan pergi tidur. Apa dia mirip ayahnya? -saya berfikir begitu karena ibuku bilang saya sangat menyulitkannya selama dalam kandungan”

“Anda begitu bijaksana dan lembut, anda jelas mirip mendiang ibu anda ketimbang Kaisar”

“Ayahanda akan marah jika mendengarnya, Beliau menyakini betapa miripnya saya dengannya. Dan, Bi, saya tak menganggap anak ini kesialan. Dia hidup didalam sini dan itu menakjubkan, saya akan membesarkannya meski artinya saya harus menyerah terhadap mahkota”

“Anda bahkan tak tau seperti apa Ayah bayi anda. Bagaimana jika dia pria yang menyakiti anda dan hanya membuat anda bersedih”

“Entah, tapi… Menurutku aku bukanlah gadis bodoh yang akan mencintai sembarang pria. Menyerahkan kegadisan saya padanya, saya yakin dia pria yang luar biasa”

.

.

.

Pria yang luar biasa itu disuatu tempat, tubuh kekarnya bermandi keringat, beberapa sayatan luka menghiasai punggung dan bahu lebarnya.

“Pangeran, tolong berhenti!”

“Aku masih belum lelah, Way”

“Bukan anda yang sedang saya cemaskan tapi mereka” Way, menunjuk belasan prajurit yang terkapar di tanah nyaris tak bisa bangkit.

“Lihat siapa yang sudah menyebutku ‘pangeran terkurung’? Kita bertemu lagi setelah kalian bisa berdiri. Disini. Mau gulat atau ilmu pedang, kalian tidak berfikir untuk lari dari tantangan ‘pangeran terkurung’ ini, kan?”

“Ampuni kami, Yang Mulia!!!”

“Mereka telah belajar, jadi Yang Mulia mari bersihkan diri anda karena malam pesta dansa perayaan kedewasaan anda,,, dua jam dari sekarang”

“Ya Tuhan, Ayah repot-repot menunda pertemuan para raja dari tiga benua hanya untuk pesta bodoh itu? Bahkan aku meragukan dia ingat memiliki putra kandungnya sendiri”

“Yang Mulia Habel hanya tak pandai menunjukkan perasaannya, bagaimana pun anda putra dari Ratu yang paling dicintainya”

Lavin tak menafikan fakta tersebut, terbukti setelah belasan tahun menikah bibinya tak mendapatkan keturunan dari Ayahnya. Raja Hebel menikahi adik dari mendiang istrinya sekedar untuk mengamankan tahta juga kewajiban mengambil wanita baru sebagai permaisuri sementara hatinya utuh untuk mendiang permaisurinya, Ratu Ertha, Ibu dari Lavin.

“Jika Ibunda masih hidup mungkin saja ayah bisa mencintaiku”

“Pangeran,”

“Way, aku akan bersiap sebelum Bea turun tangan tentunya”

“Saya penasaran mengapa Anda sangat berhati-hati pada Kak Bea padahal tidak pada Ratu”

“Karena Ratu akan selalu menerima apapun yang ku lakukan tapi Kak Bea-mu selalu memperbesar dan menganggap semua perbuatanku sebagai kekacauan”

“Maka Anda harus segera menikah agar Kak Bea berhenti mengomel dan mengambil tanggung jawab atas anda”

“Menikah,, tentu. Aku akan menikah, segera”

“Oh ya? Itu bagus! Apa sudah ada seorang Putri yang anda kagumi?”

“Entah, hanya… Belakangan aku terus memimpikan seseorang.”

‘ Perempuan berambut coklat keemasan yang selalu berjalan didepanku, memunggungiku dengan dingin. Perasaan saat aku terus berusaha meraihnya, ia yang terus berlari dariku, jejak air mata yang ia tinggalkan di tanah, perempuan itu kelihatan sedih dan kesepian’

“… Pangeran, anda mendengarku? Pange-“

“Maaf, aku tak mendengarmu, coba ulangi”

“Kekaisaran Achrigen mengabarkan bahwa Tuan Putri Achrigen tidak dapat memenuhi undangan karena suatu hal, sebagai gantinya beliau mengirim Batu Sihir Mana Merah yang langka” Way menunjukkan liontin dengan batu merah dalam kotak dialasi beludru putih.

Lavin meraih dan menatap mata liontin itu dengan rasa penasaran dan sedikit takjub.

“Apa bahkan ini berguna?”

“Tentu saja, anda bisa berbicara dengan pemilik mana dari Batu Sihir ini. Putri Louisha terkenal akan kecantikan dan kebijaksanaannya, sekedar anda ketahui”

“Baiklah, mungkin dia mau memanduku jika aku pergi mengunjungi negerinya suatu hari nanti” Lavin mengenakan liontin itu tanpa banyak berfikir.

Louisha menapaki jejak kehidupan lamanya saat ia hanya gadis kecil dari sebuah desa terpencil. Tapi ia ingat betapa senangnya ia saat itu, ia masih muda belia dan penuh kasih sayang Sang Ibu. Irea, Ibunya tak membiarkan Louisha merasakan kekosongan sosok seorang ayah. Kembali seperti ini, Anehnya Louisha merasa ditempatkan diposisi ibunya dahulu. Tanpa suami beliau melahirkan bahkan membesarkan anaknya sendirian. Louisha meraba perutnya sambil membatin dalam hati,

‘Mari kita hidup seperti memeluk sebagian dari dunia ini, Nak. Kau tak memerlukan seluruhnya, Ibu pun tidak. Separuh dunia yang ibu peluk adalah kau,, dan Ibu harap demikian pun sebaliknya bagimu’

“Yang Mulia, anda sangat cocok dengan rona senja. Saya sedih anda pergi meninggalkan istana tapi anehnya saya merasa lapang saat melihat anda tersenyum”

“Apa aku jarang tersenyum belakangan?”

“Anda selalu bermuram dan nampak sedih, saya bahkan tak ingat bagaimana senyum anda”

“Ayah mengubah gubuk kami jadi seperti istana Achrigen dalam ukuran kecil. Ibuku bilang Ayah pria yang hangat, ku rasa aku tau apa maksud Ibu”

“Baginda Kaisar? Hangat? Apa anda mengatakannya karena beliau Ayah anda?”

“Marina, apa aku terlalu memanjakanmu?”

“Maaf, Yang Mulia”

“Bibi Marta sedang kerepotan membongkar bawaan, kau bantulah beliau”

“Lantas bagaimana dengan anda?”

“Aku sangat mengenal tempat ini jadi aku akan baik-baik saja lagi pula aku mulai pusing mendengarkan celotehanmu”

“Baik, Saya tidak akan mengganggu anda dan pamit membantu Kepala Dayang”

Bukit belakang rumahnya selalu menjadi tempat favorite bagi Louisha. Pohon akasia yang tumbuh menjulang dengan akar memonjol adalah naungan terbaik saat ia merasa lelah setelah bermain seharian.

“Ibu, aku kembali, kembali untuk ditemukan” ucapnya lirih. Setetes air mata jatuh tak tertahankan, ia terkulai dan terduduk dengan ujung gaun satin coklatnya yang menyapu dedaun kering, ia merasakan rasa sakit di jantungnya untuk seseorang yang wajahnya tak dapat ia ingat. Pelukan hangat itu, aroma tubuh yang memabukkan dan kalimat ‘aku mencintaimu’ yang terus berdengung ditelingatnya membuat Louisha benar-benar menggila.

“Ku mohon, siapapun kau, mohon kembali dan selamatkan aku” bisik Louisha disela tangisnya, entah kepada siapa pertanyaan itu ia tujukan namun waktu yang hilang sekalipun selalu menyisahkan jejak, angin musim gugur yang bertiup hari itu membawa suara Louisha kembali pada kekasihnya.

Lavin yang menuruni tangga hall dengan diiringi tatapan seluruh tamu undangan pesta, Lavin yang hanya memiliki tubuh tanpa jantung Raja Biru, seketika ia merasakan rasa sakit tak tertahankan tepat didadanya.

“Pangeran, anda baik-baik saja?”

“Seseorang, ku rasa seseorang sedang meremukkan jantungku. Way, panggilkan Beatrich aku perlu halusinogen yang lebih kuat untuk malam ini”

“Baik, Yang Mulia” Way pamit digantikan seorang dayang yang siap melayani. Malam itu Lavin menampilkan dirinya dengan baik, para putri tamu undangan dari negara lain nampak terkesima dengan ketampanannya, Ibu Suri menerima pinangan spontan dari bangsawan berstatus tinggi yang memiliki anak gadis siap menikah. Beliau memamerkan Lavin dengan bangga seolah tak pernah mengasingkan putra tiri sekaligus keponakannya itu.

“Ibunda, Saya merasa sangat penat, bisakah saya beristirahat sesaat?”

“Tentu, Sayang. Gunakan waktumu dan lekas kembali karena Ayahmu memiliki pengumuman penting tentangmu malam ini”

“Baiklah, Saya akan segera kembali”

Lavin mengikuti arah datangnya cahaya di lorong menuju ruang bawah tanah paviliunnya. Beatrich menunggu disana dengan lingkaran sihir dan halusinogen yang ia pesan.

“Apa rasanya sangat sakit? Saya tidak menyarankan pemberian halusinogen yang lebih kuat karena itu akan mempengaruhi kesadaran anda sepenuhnya”

“Berikan saja, aku rasa aku bisa mati karena rasa sakit ini. Siapa orang sial yang terus memegangi jantungku dan meremukkannya? Akh!!” rasa sakit itu kembali datang, Lavin terduduk jatuh di pelukan Beatrich. Ia memegangi dadanya seolah ia berusaha menjaga apa yang ada didalam sana.

“Saya hanya menduga,, bahwa seseorang mengacaukan lingkaran takdir”

“Siapa? Siapa bedebah terkutuk itu?”

“Ini mungkin terdengar gila tapi anda pun tau bawa sihir terlarang itu cuma Anda yang bisa melakukannya”

“Y-ya?”

“Saya akan membuka segel yang dibuat mendiang Permaisuri di jantung anda. Rasanya akan sangat sakit tapi tolong tahanlah karena hanya itu cara agar kita tau apa yang telah terjadi”

“Lakukan, apapun itu yang Kakak anggap benar”

. . .

Bersambung,

Epilogue:

“Ru, Bantu Aku melindungi Lavinku. Bahkan jika ia reinkarnasi Raja Biru, bahkan jika ia harus hidup dengan kutukan mengerikan itu, aku tetap tak bisa melepaskan putraku pada kematian.” Ditempat yang sama, dua puluh tahun lalu Ratu berdiri disamping lingkaran sihir yang dibuat Pangeran Rubel. Ia memeluk bayi mungil yang bahkan tak mengeluarkan suara. Tubuh bayi malang itu sedingin es, kahangatan Sang Ibu bahkan tak sampai menjangkau jantungnya.

“Pada akhirnya ia akan menemui takdir naas-nya. Waktu pada kenyataannya tidak bisa diputar mundur kecuali sebuah pintu terbuka yang didalamnya kehidupan lain dengan pilihan-pilihan yang terlewatkan” Pangeran Rubel menuntun Ratu Ertha melangkah ke tengah lingkaran.

“Apa kita mungkin bisa menyembunyikan Lavin disana?”

“Tentu, tapi itu akan membunuh Lavin sekali lagi. Apa menurutmu putramu bisa meloloskan diri dari kematian?”

“Maksudmu- jangan katakan kau-“

“Ya. Aku akan menyegel jantungnya dengan sihir terkuat milikku. Kau harus membantu dengan mana-mu, Lavin tidak boleh melihat masa depan juga perempuan itu (reinkarnasi Ratu Putih), atau… Sekali lagi ia akan melewati kematian yang lebih menyakitkan”

.

Diposkan pada kisah cinta

Membawamu Kembali Padaku, Part-20

Part 20. Kembali, Menuju Masa Asing Tanpamu

“Kau mengorbankan hidupmu untuk seorang wanita, tidak ada yang lebih memalukan bagi laki-laki selain yang kau coba lakukan. Kau bahkan Pangeran Blue Spring”

“Saya tidak faham apa yang Yang Mulia dapatkan untuk membahas masalah pribadi Saya, dengan segala hormat Saya datang bukan untuk berbicara dengan Anda, Yang Mulia”

“Entah di malam hari atau bahkan di siang hari, aku tetap membenci matamu. Dan tatapan angkuhmu sekarang, apa seperti ini kau hidup untuk selamanya mempermalukanku?”

“Cukup. Yang Mulia, anda datang karena kemauan anda ketika saya memberitahu keadaan putra anda. Saya memberikan kesempatan terakhir bagi anda untuk menjadi Ayah bagi Pangeran bukan untuk anda menyudutkannya tanpa alasan”

“Kau yang memulainya, Pangeran Rubel. Kau menanam jantung pria terkutuk pada tubuh mati putraku. Dia- hanya fisiknya saja yang merupakan putraku tapi di dalam,, namanya bahkan terkutuk untuk disebut”

“Jantung siapa yang Anda maksud, Yang Mulia? -Paman?” Lavin bergantian menanyai Pamannya.

“Jantung Raja Biru. Pangeran Lavin terlahir  dengan jantung yang lemah, Aku menggunakan sihir terlarang untuk mentransplantasikan jantung Raja Biru ke dalam tubuhnya. Pangeran Lavin hidup tapi,, bersamanya juga kutukan Raja Biru. Kau akan mati dengan jantung membeku oleh kekasihmu, Ratu Putih”

“Ratu Putih? Dua orang itu bahkan hanya tokoh legenda-“

“Mereka benar-benar hidup di masa lalu dan kembali terlahir di masa kini. Ratu Putihmu adalah,, Putri Achrigen, Louisha Roana de Achre” Monster Mata Kelabu yang kita ketahui adalah Pangeran Rubel akhirnya menceritakan bagian terpenting dari kehidupan lampau Lavin.

“Kau bisa terus menjadi putraku jika kau melepaskan takdir dari jantung pria terkutuk dalam tubuhmu.” Raja Habel mengulangi titahnya.

“Lavin, kau bisa berhenti atau kau akan kehilangan dirimu sendiri sepenuhnya”

“Tidak, Paman. Putri Louisha mengandung anakku, terlalu terlambat untuk berhenti. Aku akan menanggung karma ini untuk menjadi seorang ayah dan suami di kehidupanku saat ini”

“Kau bahkan tak mengetahui pengorbanan apa yang telah dibuat Putri Louisha”

“Pengorbanan?”

“Ya. Untuk membuatmu tetap hidup, Istrimu sekali lagi mengorbankan anak kalian”

Louisha tak sanggup melihat lebih jauh lagi. Tatapan Lavin ketika mendengar kebenaran tersebut, Louisha sadar ia telah sangat melukai Lavin saat ia ingin melindungi pria itu.

“Lavin menolak memberikan jantungnya. Dia,, melakukan sihir pengembali waktu tahap awal. Dia jatuh sakit karena mana dingin dan panas terus berputar dalam tubuhnya.” Beatrich memberitahukan penglihatan terakhir yang tidak Louisha saksikan.

“… Apa suamiku akan mati?”

“Tidak ada yang pernah menggunakan sihir kuat terlarang itu selain Raja Biru sendiri”

“Raja Biru menggunakannya?”

“Ya. Dengan mana terakhirnya ia menggunakannya untuk menyelamatkan Ratu Putih dan anak mereka. Ia mengeluarkan jantungnya agar kelak ia bisa bereinkarnasi kembali untuk menemui  kekasihnya”

“… Jadi pada akhirnya aku,, aku yang jadi penyebab kematian suamiku”

“Putri, tenangkan dirimu.” Beatrich mengguncang kedua bahu Louisha yang gemetaran nyaris jatuh ke lantai.

“Aku tau dimana gua itu,, aku akan menemui paman Lavin dan menyelesaikan semuanya,, pasti ada cara-“

“Waktu akan segera berputar mundur,, tak ada cara untuk menghentikannya”

“Bagaimana denganmu? Kau pasti punya rencana, kau lebih dari mampu dan,, kau mencintai Lavin. Tolong lakukan apapun untuk menyelamatkannya!”

“Aku akan membawa Lavin, akan ku usahakan yang terbaik jika kau mengizinkan”

“Tentu, lakukan apapun, aku mempercayaimu”

Seperti itu kali terakhir Louisha melihat Lavin. Beberapa hari setelahnya ia menerima surat dari Lavin, pria itu meminta bertemu dan menanyatakan tentang kondisi kehamilannya. Louisha menjawab surat tersebut melalui Beatrich,

“Katakan pada Lavin bahwa aku tak menginginkan pernikahan ini lagi, suruh dia berhenti berharap kembali karena Achrigen tidak akan menerimanya. Beatrich, aku mempercayakan Lavin padamu, aku akan kembali menjemputnya saat aku memiliki cara untuk menyelamatkan Lavin”

Seperti pesannya, Louisha mengembara kesegala penjuru negri demi menemukan cara menghentikan sihir pengembali waktu. Tak terhitung berapa kali ia melakukan ritual suci dan sejumlah itulah ia menyesap pahit keputusasaan. Kandungannya semakin membesar begitupun rasa sakit yang ditanggungnya. Louisha bahkan tak bisa mencintai anak dalam perutnya ketika ia tau anak itu akan merenggut kehidupan ayahnya, Suami yang ia cintai melebihi nyawanya. Tapi ia juga tak bisa membunuh anak itu ketika ia membayangkan betapa Lavin akan sangat membencinya.

“Putri, saya tau anda tak bersungguh-sungguh dengan pengusiran ini, bahwa anda sama terlukanya dengan saya ketika kita tidak bisa bersama-sama melewati rasa sakit ini. Saya mencintai anda dan semua berawal dari keegoisan saya yang menginginkan hati anda. Jika saja saya tak membelokkan arah perasaan anda sehingga anda tetap pada tujuan untuk mengembalikan kekasih anda, tentu kita tidak akan sedemikan hancurnya.
Saya bukan ayah yang baik bagi anak kita, bukan juga suami yang mampu menopang anda. Segera setelah poros waktu berputar menuju masa lalu, segera pula anda akan melupakan semuanya. Saya harap anda terbangun dengan perasaan lega dan tenang maka dengan begitu cinta kita baru benar-benar dimurnikan. Louisha, saya mencintai anda dan tak pernah sedetik pun tak berbahagia karenanya”

Louisha menyadari ia telah kehilangan kesempatannya ketika menerima surat tersebut. Ia terisak membayangkan betapa lemahnya Lavin lewat tulisan tangannya yang biasanya indah namun kini nampak berantakan. Lavin menggunakan kekuatan terakhirnya untuk meyakinkan Louisha bahwa semua yang terjadi bukan salahnya, bahwa Lavin berbahagia karena mencintai dan dicintai, bahkan ia mengharapkan Louisha memperoleh kelegaan dengan melupakannya,

“Mana mungkin,, teganya kau menyuruhku melupakanmu. Tidak. Aku masih memiliki cukup waktu,, aku akan memelukmu setidaknya sebelum aku mati”

“Putri, apa yang anda katakan? Mau kemana anda tengah malam begini? Dan- diluar akan segera turun badai” Louisha menerobos Marina yang berdiri menghalangi jalannya. Dengan hanya memakai jubah bertudung ia memacu kudanya dengan cepat menuju Blue Spring untuk memeluk kekasihnya terakhir kali.

Tapi jalan yang ia tempuh tak pernah membawanya pada Lavin. Badai yang diperingatkan Marina tak bisa menghalangi Louisha tapi sebuah sinar kuat yang menusuk penglihatannya tiba-tiba muncul mengalahkan gelapnya malam, Louisha tak bisa menjaga keseimbangannya dan terjatuh dari kudanya. Ia memegangi perutnya yang terantuk tanah berbatu, pada detik terakhir sebelum sepenuhnya kehilangan kesadaran, Louisha menyebut nama Lavin, kilatan ingatan bahagia yang ia  bagi dengan pria itu melintas dan menjadi kabur perlahan.

.
.
.

Hari telah terang, langit bersih dari awan dan suara kicauan burung membangunkan Louisha yang bergelung dibawah selimut  tebalnya.

“Marina,,” ia memanggil nama dayang pribadinya sambil mengangkat tubuhnya yang terasa berat dan lelah.

“Putri, Selamat pagi. Saya tak membangunkan karena anda akhirnya tidur nyenyak setelah putusan Kaisar kemarin”

“Ayah? Putusan apa yang kau maksud?”

“Pertunangan anda dengan Prince Theodore. Apa anda melupakannya sementara anda memimpikan beliau semalam?”

“Mimpi?”

“Ya. Mimpi indah. Anda tersenyum bahkan tertawa dalam tidur anda, pasti… Pangeran Theodore kan yang  anda mimpikan?”

“Entah, tapi sepertinya bukan dia. Aroma tubuh itu,, dan suaranya,,” Louisha mencoba mengingat-ingat. Tapi seperti semua mimpi, ia melupakannya lima menit setelah terbangun.

“Putri, kecilkan suara anda. Saya faham mimpi apa yang anda maksudkan, tapi… Kita punya hal yang lebih penting dan sesuai tatakrama bangsawan?”

“Apa?”

“Upacara pertunangan. Hari ini. Prince Theodore dan keluarga Diora sudah tiba untuk meminang anda, Yang Mulia”

“Pertunangan? Siapa? Siapa yang membuat Kaisar memutuskan ini- salah. Bukan itu yang penting tapi,, bagaimana Pangeran Theodore bisa dibujuk? Dia bilang dia memiliki tunangan yang akan segera ia nikahi”

“Sudah dibatalkan”

“Ya? Batal?”

“Hm. Kandungan anda. Yang Mulia sudah mengetahuinya. Tabib Abraka Si Tua Bangka itu memang tidak bisa menjaga mulutnya”

“Kandungan?” Louisha meraba perutnya dan ia merasakan kehidupan di dalam sana.

“Putri, anda kelihatannya masih belum sepenuhnya sadarkan diri. Mari, saya membawakan susu hangat untuk anda”

‘Benar. Aku hamil. Ya. Aku baru ingat tentang kehamilanku. Tapi,, bahkan aku tak ingat siapa ayah dari anak ini’

“Putri, anda mau kemana?”

“Ayahanda. Kaisar- beliau mungkin masih di istananya, kan?”

“Anda akan memberikan sapa pagi dengan gaun tidur dua lapis?”

“Mantel. Tolong, Marina, aku- aku harus menyelesaikan ini sekarang juga”

Marina yang sepenuhnya tak memahami perkataan majikannya hanya menurut dan memberikan mantel bertudung yang Louisha maksud.

“Ayahanda,”

“Putri- oh, hati-hati dengan kandunganmu, berlari begitu kau bisa terluka”

“Ayah- saya,, Saya tidak ingin menikahi Pangeran Theodore.”

“Apa maksudmu, Nak? Anak dikandunganmu memerlukan ayahnya dan Pangeran Theodore sudah menyetujuinya”

“Tapi Pangeran Theo bukan ayah dari bayiku, Yah”

“Lantas? Katakan siapa bajingan yang berani menodai putriku? Ku pastikan dia menyesali hari saat dia dilahirkan-“

“…”

“Putri, Jawab Aku!”

“Saya pamit undur diri. Mohon, batalkan saja pertunangannya. Tentang kehamilan ini Saya yang akan menanggungnya sendiri. Maaf karena Saya menyebabkan rasa malu pada Sang Kaisar”

Louisha berbalik pergi usai memberi hormat, Kaisar tak dapat berkata-kata setelah mendengar banyak hal yang tak terprediksi dari Putrinya yang selalu konsisten itu.

Di luar pintu, Louisha yang berusaha menahan keseimbangan tubuhnya pun akhirnya limbung dan terhuyung nyatis jatuh kalau saja seseorang tidak menangkapnya dengan sigap.

“Putri- ” Pria itu, Pria yang menangkapnya juga yang menyebut namanya itu tak lain adalah Theodore,

“Maaf, terimakasih juga” Louisha menyingkirkan tangan Theodore yang masih memegangi bahunya, ia berusaha menegakkan tubuhnya dan menatap pria itu seolah tak terjadi apa-apa.

“Kita- saya rasa kita perlu bicara”

“Bicaralah dengan Kaisar, saya sudah mengatakan apa yang perlu dikatakan pada Kaisar”

“Anak itu,, siapa ayah dari anak itu?”

“Bukan urusan anda. Permisi”

“Anda- anda tidak baik-baik saja, anda bisa terjatuh lagi dengan kondisi anda sekarang. Tolong, biarkan saya mengantar anda sampai Paviliun”

Kepala Louisha terlalu pusing untuk merespon apalagi mendebat pria itu. Ia membiarkan Theodore berjalan empat langkah dibelakangnya, pria yang biasanya dingin tak tersentuh itu entah mengapa tiba-tiba berubah hangat dan sok peduli. Louisha bahkan merasa enggan memikirkannya.

‘anak siapa ini? Ya. Harusnya aku ingat. Aku- aku terjatuh dari kuda malam itu untuk menemukan seseorang,, jangan-jangan… Apa aku mengencani pria brengsek yang lari dari tanggung jawab?’

“Putri- anda sungguh baik-baik saja?”

“Ya. Aku hanya agak pusing. Anda bisa pergi untuk mendengar keputusan Kaisar. Saya yakin anda akan senang dengan keputusan tersebut”

“Siapa? Siapa pria yang membuat anda berubah fikiran? Anda bahkan membuat Putri Laverna membatalkan pertunangan kami, anda juga menyebarkan rumor bahwa anda mengandung anak saya- pernikahan ini tidak bisa diputuskan dan diakhiri sesuka hati anda.”

“Saya tidak mengerti. Ketika dahulu Anda membenci saya juga sekarang, anda mempertanyakan perasaan saya saat semula anda tak peduli. Pangeran, jika ini tentang kompensasi saya yakin Kaisar akan memenuhinya. Permisi”

Louisha masuk ke dalam paviliunnya dan memerintahkan penjaga menutup gerbang. Ia menjatuhkan tubuhnya yang tak lagi sanggup berdiri tegak, anehnya aroma selimut dan bantalnya terasa asing baginya. Ia terus mengingat aroma asing bahkan ia membayangkan seseorang memeluknya dengan deru nafas yang menggelitik tengkuknya. Louisha berkeringat sangat banyak dan ia benar-benar jatuh sakit selama beberapa hari.

“Putri, anda menolak kunjungan Kaisar. Beliau kelihatan sangat cemas hingga memerintahkan prajurit istana mengawasi semua pria yang pernah melewati gerbang istana enam bulan terakhir. Sepertinya beliau memutuskan untuk mencari kekasih misterius anda”

Louisha tak menghiraukan laporan Marina ketika ia bahkan tidak bisa mengenyahkan aroma asing dan suara-suara yang terus berputar di kepalanya.

Satu bulan berlalu begitu saja dan kandungan Louisha sudah tidak bisa ditutupi dengan gaun dan jubahnya. Kali ini ia menerima kunjungan Sang Ayah. Kaisar Roan memeluk putrinya, mengusap puncak kepala Louisha penuh kasih juga kesedihan.

“Ayah tidak akan menanyai siapa ayah anakmu lagi. Siapa yang akan berani mempertanyakan pewarisku di masa depan? Aku akan membunuh orang itu jadi kau tetaplah tegar”

“Yah, saya penasaran mengapa Ayah selalu berkompromi terhadap apapun yang saya lakukan bahkan saat saya mencoreng nama ayah dengan kehamilan ini”

“Itu- ramalannya. Ayah mendapat ramalan tentang kelahiranmu. Kau, gadis yang sangat berharga. Memiliki putri sepertimu Ayahmu ini diberkati jadi, kau selamanya tak akan pernah mengecewakan Ayah”

“Ayah, Loui mencintaimu, Yah” Louisha serta merta meneteskan air mata haru, ia memeluk Ayahnya lagi dengan erat.

“Ya, ayah juga mencintaimu. Jadi, katakan apa yang kau inginkan. Ayah menyedarinya, kau memiliki keputusanmu saat kau menerima kunjunganku”

“Aku,, biarkan aku melahirkan anak ini di desa kelahiranku. Ini permohonanku”

“…”

“Yah, ayah tidak mau mengabulkannya?”

“Baiklah, Ayah akan mengirim pengasuh dan pelayan terbaik juga beberapa ksatria pelindung terbaik. Dalam sebulan istana akan dibangun disana,”

“Terimakasih, Yah”

.

.

Bersambung,

Epilog:

Kaisar Muda Roan tertawa dengan tawanya yang menggetarkan aula pertemuan 12 menteri, usai penobatannya. Pria tua berjanggut putih dibawah tahtanya baru saja meramalkan kehancuran tahtanya tapi justru ia terlihat senang dengan ramalan tersebut.

“Ku peringatkan padamu untuk meninggalkan siapapun yang saat ini berada dalam hatimu, Roan. Wanita itu akan melahirkan jiwa terkutuk Ratu Putih. Kau akan melewati penderitaan batin yang pernah kau alami di masa lalu sekali lagi karena wanita itu”

“Diam kau, Orang tua! Aku bahkan bisa merasakannya, Putriku adalah reinkarnasi Pemimpin Wanita terbaik yang pernah tercatat oleh sejarah. Aku hanya akan melimpahinya dengan cinta, mewariskan tahta berdarah ini padanya. Kaisar Wanita terkuat sepanjang kekaisaran Achrigen, bukankah itu terdengar bagus?”

Seperti itu Roan de Achrigen, memutuskan untuk tak melepas Irea, satu-satunya orang yang paling ia hargai dan cintai.

.

Diposkan pada kisah cinta

Membawamu Kembali Padaku, Part-19

Part 19. Aku Melihat Lukamu

Pangeran Lavin kembali dari perjalanannya dan jatuh sakit. Ia diserang panas tinggi, kehilangan nafsu makan bahkan terus memuntahkan ramuan obat yang diberikan tabib. Louisha baru mengetahui kabar sakitnya Lavin ketika ia kembali dari peninjauan wilayah pertanian yang baru dibuka. Lavin setengah tak sadarkan diri ketika Louisha datang ke kamarnya. louisha meletakkan kepala Lavin di pangkuannya dan mendapati tubuh suaminya sepanas bara.

“Apa ini? Anda sakit seperti ini tapi tak mengabari saya lebih cepat”

“Saya hanya terserang demam, anda mestinya tak menemui saya bagaimana jika anak kita tertular penyakit saya?”

“Anda masih mencemaskan gumpalan daging ini padahal anda sedang kesakitan? Saya sudah memanggil Beatrich, ia akan datang dengan bubuk peri atau apapun”

“Bea, Bea pasti memberitahu Sang Raja. Kirimkan surat dengan penunggang kuda terbaik, katakan pada Bea bahwa anda keliru tentang kesehatan saya”

“Pangeran! Anda- darah! Tabib!! Panggil Tabib!!” Louisha berteriak histeris hari itu, lebih putus asa ketimbang dahulu ketika ia menemukan Theodore terluka parah oleh penyiksaan.

Tabib Abraka memeriksa kembali dan tak menemukan sakit apapun. Pria tua itu kesulitan menjelaskan pada Putri Louisha bahwa kemungkinan hal lain yang membuat Sang Pangeran jatuh sakit.

“Maksudmu dia bukannya terserang wabah atau semacamnya?”

“Ya, Sakit fikiran bisa lebih menyiksa seseorang bahkan sampai melukai tubuhnya seperti yang Pendamping Putri Mahkota derita saat ini. Pangeran akan membaik dengan penghiburan, istirahat cukup dan makanan yang baik.”

Louisha segera memeriksa kembali Lavin yang kini sudah sadarkan diri. Lavin tersenyum sambil mengangkat tangannya yang segera terjatuh karena tak cukup bertenaga.

“Anda sudah menghubungi Bea agar dia tidak kemari?”

“Saya sudah mengirim penunggang kuda terbaik untuk mengantarkan suratnya seperti keinginan anda- tetaplah berbaring, Tabib bilang yang anda butuhkan adalah istirahat”

“Haus, bisa tolong-“

“Tentu,” Louisha mengambil segelas air yang tersedia, dengan bantuan sendok ia menyuapkan air ke dalam mulut Lavin perlahan-lahan.

“Anda terus berkeringat, saya akan membantu anda berganti pakaian” Dengan telaten Louisha merawat Lavin penuh kasih-sayang. Ini tak sulit baginya karena sebelumnya ia juga pernah merawat Sang Suami.

“Anda akan jadi ibu yang baik,”

“Anda menyadarinya? Pangeran, anak kita hari ini sangat tenang seolah dia tau ayahnya sedang sakit. Kau mau memeriksanya?” Lavin mengangguk. Louisha meriah telapak tangan Lavin, menghantarkannya ke perutnya. Lavin tidak bisa merasakan apapun, mana-nya terkuras habis. Ia hanya tersenyum merespon tatapan penuh tanya Sang Istri.

Hm. Dia sangat tenang. Ku fikir dia perempuan”

“Perempuan? Tidak. Jangan katakan itu. Akan lebih baik jika dia laki-laki”

“Mengapa tidak? Dia akan jadi gadis tercantik di tiga benua seperti ibunya”

“Maka jika dia laki-laki dia akan jadi pangeran tertampan seperti ayahnya”

“Putra kita,, mungkin saja dia terlahir dengan jantung Raja Biru”

“Jantung Raja Biru? Apa maksud anda?”

“Putri, Saya mengantuk. Maukah anda bersenandung untuk saya? Ketika gelap rasanya saya tenggelam dalam lubang tak berdasar”

“Tentu, Saya akan bersenandung sampai anda benar-benar lelap” Louisha tau Lavin sengaja mengalihkan pembicaraan. Panas di kepalanya membuatnya tanpa sadar membahas Jantung Raja Biru yang hanya pernah di dengarnya dari dongengan Ibu Pengasuhnya.

***

“Kau menemukan Ibu Pengasuhku?”

“Beliau tinggal di sebuah desa di wilayah utara, anda bisa mengirim surat agar beliau datang menemui anda.”

“Bibi Marta tidak akan bersedia tapi… Aku juga tidak bisa meninggalkan suamiku yang sedang terbaring sakit”

“Tapi anda bisa mengirim orang untuk menjemput beliau”

“Kau tidak mengenal Bibi Martha. Dia bukan dayang biasa,”

Penyihir Kastil Utara, Louisha belum lama mengetahuinya setelah tanpa sengaja melihat catatan rahasia milik Ayahnya. Sepertinya Sang Ayah memiliki gambaran besar ketika ia menyerahkan pengasuhan putrinya pada Penyihir Level Atas yang dikenal memberontak kekaisaran.

“Jadi apa keputusan anda, Yang Mulia?”

“Pangeran-ku lebih penting, aku tidak bisa melakukan apapun sampai ia sehat kembali. Pekerjaanku sudah selesai, kan? Aku akan memeriksa keadaan Pengeran”

“Maaf, apa Yang Mulia akan menginap di paviliun Pangeran lagi? Maksud saya,,, saya perlu melakukan beberapa persiapan  yang dibutuhkan”

“Apa Para Tetua masih terus berbicara mengenai ramalan dan kutukan? Apa mereka bahkan berniat mencampuri urusan malam intim kami?! Aku harus menemui Ayahanda Kaisar, umumkan kedatanganku” Raut Louisha berubah murka. Ia yang seperti ini sangat menyerupai Kaisar Roan, ayahnya.

“B-baik, Yang Mulia”

Louisha mengadukan rumor yang beredar sekaligus Para Tetua yang memperbesar rumor tersebut pada Kaisar dan sebagai jawabannya Kaisar memecat pekerja istana yang ketahuan membicarakan rumor tersebut, memenjarakan orang yang menyebarkannya hingga mengasingkan para Tetua yang berkonspirasi dalam rencana pembatalan pewarisan tahta.

Keadaan Lavin membaik setelah dua pekan meski Louisha tak mendapatkan kesimpulan apapun mengenai penyebab sakit suaminya. Dalam beberapa hal Lavin masih sangat tertutup dan itu yang mengganggu fikiran Louisha.

“Anda,, pergi mengunjungi Paman anda sehari sebelum anda jatuh sakit, apa itu benar?” Louisha tak bisa menahan rasa ingin tahunya.

“Sier sangat setia pada tuannya padahal saya sudah membuatnya berjanji untuk tak melaporkannya pada anda”

“Saya tau anda tak memiliki paman-“

“Ada. Ibuku memiliki kakak laki-laki”

“Tentu, mendiang Pangeran Rubel, Panglima Perang Blue Spring” Louisha bukannya tak tau sama sekali silsilah keluarga Lavin.

“Paman Ru masih hidup. Bagaimanapun hanya itu yang bisa saya ceritakan pada anda sementara ini. Tolong jangan bertanya lagi,”

“Tapi anda segera jatuh sakit setelah menemui Beliau, setidaknya saya harus tau apa yang membebani fikiran suami saya”

“Maaf, Putri. Saya masih lelah, bisa tinggalkan saya sendirian?” Lagi. Pria itu menghindarinya, membangun tembok tak kasat mata yang terlarang bagi Louisha.

“Baiklah, saya tidak akan memaksa tapi saya akan tetap disini memastikan anda tidur nyenyak”

“…” Lavin tak menjawab, ia berbaring memunggungi Louisha. Pria itu memiliki sisi dingin yang tak terjamah, yang jika Louisha mencoba menyentuhnya mungkin ia akan memecahkannya.

“… Ini mungkin akan terdengar aneh bagi anda tapi… Saya ingin mengenal suami saya, bagaimana anda bertumbuh, siapa saja yang anda andalkan termasuk apa saja yang bisa melukai anda”

“…”

“Pangeran, kalau-kalau anda membutuhkan seseorang untuk berpegangan, alih-alih Beatrich, tidak bisakah anda mengandalkan saya?” Louisha melingkarkan lengannya, memeluk punggung Lavin dari belakang.

Air mata Lavin jatuh merembih ketika kehangatan asing menyentuh sisi dingin dalam dirinya. Tapi berbeda dengan mengandalkan seseorang, Lavin tak bisa menunjukkan dirinya yang penuh luka dan terus terluka di tempat yang sama. Itu menyedihkan dan ia benci menunjukkannya pada orang yang paling ia cintai.

Lavin mengernyitkan kedua alisnya dengan mata terpejam, ia mengalami mimpi buruk itu lagi.

Sosok dirinya yang masih berusia 6 tahun, berlari menuju seseorang. Pria muda berjubah megah dengan mahkota. Raja Habel, ayah kandung yang wajahnya baru pertama kali dilihatnya.

“A-yah” Lavin mengeja panggilan tersebut dengan tangan mungil menggapai udara berharap pria itu meraihnya.

“Aku tidak suka warna matanya” Pria itu berujar dengan dingin pun tatapannya tajam menusuk. Untuk pertama kalinya Lavin mengerti makna benci, luka dan kesedihan. Kemudian, seterusnya kegelapan menenggelamkan malam-malamnya.

Lavin menangis dalam tidurnya, terisak dengan tubuh gemetaran tapi tak mengucapkan sepatah kata pun. Louisha membangunkan Lavin agar pria itu kembali ke kenyataan, memberitahunya bahwa itu hanya mimpi. Lavin membuka matanya yang berair dan pedih. Ia memeluk Louisha erat, menemukan pegangannya.

“Anda baik-baik saja, ada saya disini, anda hanya bermimpi buruk” Louisha menepuk-nepuk punggung Lavin yang masih terisak tanpa suara. Hampir satu jam Lavin duduk memeluk Louisha, ia sudah lebih tenang setelah Louisha menyalakan dupa yang dicampur bubuk peri. Lavin kembali tertidur tapi sisa kesedihan masih tergambar di wajah rupawannya.

Pintu terbuka perlahan, Marina masuk dengan tenang.

“Putri, Nona Beatrich menunggu di istana Putri Mahkota” lapornya setengah berbisik.

“Aku akan menemuinya sebentar, berjagalah disini, kalau-kalau pangeran bangun katakan aku akan segera kembali”

“Baik, Yang Mulia”

Louisha mendapati Beatrich dengan penampilan berbeda dari biasanya. Penampilan yang membuatnya dipanggil ‘Nona’ oleh Marina. Beatrich nampak anggun dan cantik dengan gaun sederhana berwarna hitam.

“Apa Lavin sungguh baik-baik saja? Izinkan saya melihatnya-“

“Duduklah, bicara dengan saya sebelum anda melihat suamiku” Ada penekanan pada kata terakhir. Louisha masih tidak nyaman dengan kedekatan Lavin dan Beatrich terlebih dengan penampilan khas nona bangsawan mungkin saja Lavin akan terpesona dibuatnya.

Keduanya duduk berjadapan dengan dua cangkir teh dan manisan kurma kering. Louisha menyesap tehnya lebih dulu baru kemudian mempersilahkan Beatrich.

“Saya tidak datang untuk menikmati teh bersama anda, Yang Mulia”

“Tentu, saya juga tidak. Lavin,, dia jatuh sakit setibanya dari perjalanan menemui Pamannya” Louisha meletakkan kembali cangkir tehnya setelah menyesalnya seteguk.

“Paman? Bukannya Raja?”

“Raja?”

“Ya. Yang Mulia Habel baru kembali dari perjalanannya, salah satu pelayannya memberitahu saya bahwa beliau menemui Pangeran. Tapi anda tadi menyebut ‘Paman’? Apa Pangeran sudah bercerita tentang Pangeran Rubel?”

“,, Sudah. Sedikit. Dia bilang mereka sangat dekat dahulu” Louisha terpaksa berbohong untuk memancing Beatrich menceritakan semuanya.

“Ya, Pangeran Rubel membesarkan Pangeran Lavin seperti anaknya sendiri sampai Pangeran berusia 6 tahun”

“Maksudmu membesarkan seperti anaknya…”

“Pangeran terlahir dengan tubuh lemah, Pangeran Ruben yang memiliki kemampuan healer merawatnya jauh dari istana. Hanya itu yang saya tau”

“Apa Raja dan Ratu baik-baik saja dengan situasi itu? Maksudku- anak mereka tinggal di luar istana”

“Anda bilang Pangeran sudah bercerita- apa jangan-jangan anda berbohong untuk mengorek informasi dari saya?” Bea yang cerdas dan penuh kewaspadaan segera menyadari maksud Louisha.

“Mana mungkin, anda bilang ingin melihat suami saya. Mari, Lavin-ku sedang tidur tapi anda bisa melihatnya sebentar”

Louisha buru-buru mengalihkan fokus Beatrich, ia tak mungkin mengaku berbohong dan membuang kesempatan mendapatkan informasi dari guild.

“Putri, perkenankan saya mendekat, saya akan membagi mana saya agar pangeran lekas membaik” Beatrich meminta izin dengan kerendahan hati jadi mana mungkin Louisha bisa menolak lagi pula ini untuk Lavin.

Beatrich meletakkan telapak tangannya di dahi Lavin, ia membaca mantra sihir dan tanpa sepengetahuan Louisha, Beatrich membaca ingatan Lavin.

Beatrich melihat Lavin turun dari kudanya kemudian berjalan menuju ke dalam gua. Lavin memanggil ‘Paman’ yang Bea yakini sebagai Pangeran Rubel. Tapi penglihatannya tak sesuai keyakinannya. Disana berdiri seorang pria muda dan,, Raja Habel.

Y-yang Mulia Raja- hormat dan salam kepada Musim Gugur Biru” Lavin nampak terkejut  tapi berhasil mengendalikan dirinya. Ia memberi salam kepada Sang Raja.

“Aku datang untuk bertemu Pangeran Rubel, kebetulan sekali kita bertemu”

“Saya akan menunggu di luar agar tidak mengganggu kepentingan anda, Yang Mulia”

“Duduklah, yang ingin kami bicarakan Ada hubungannya denganmu juga. Anda tidak keberatan kan, Yang Mulia.” pria muda itu meminta persetujuan Raja Habel.

“Tentu. Kau duduklah,” Raja Habel berbicara pada Lavin yang dengan wajah tertunduk mengikuti perintah.

“Beatrich, apa yang kau lakukan?” Louisha melihat ada yang janggal. Lavin yang semula tidur dengan tenang kini menunjukkan perubahan ekspresi, terlebih Beatrich tak merespon pertanyaannya. Louisha meraih telapak tangan Beatrich dari dahi Lavin.

“Kau-” Beatrich manatap nyalang Louisha ketika ia ditarik keluar dari alam bawah sadar Lavin.

“Apa yang kau lakukan pada suamiku? Aku tidak percaya jika kau beralasan mengobatinya atau apapun”

“Maaf, aku membaca ingatan Lavin. Sesuatu di tanam di jantungnya, Lavin kesakitan karena itu”

“Kalau ini memang tentang suamiku maka biarkan aku juga melihatnya” Louisha memohon dengan tatapan tak terdefinisikan. Perempuan itu sungguh-sungguh peduli pada Lavin dan Beatrich tak bisa menyimpan ini sekadar untuk dirinya sendiri.

“Baiklah, tapi ini akan menyakiti Lavin jadi tolong kendalikan diri anda. Kita hanya melihat, jangan coba melakukan apapun karena semua yang kita lihat nanti adalah peristiwa yang sudah terjadi. Anda memahaminya?”

Hm. Mari lakukan,”

.

.

Bersambung,

.

Diposkan pada kisah cinta

Membawamu Kembali Padaku, Part-18

Part-18 Memelukmu, Tak Melepaskan Pegangan Kita

Lavin meletakkan telapak tangannya di atas perut Louisha. Dan semburat merah segera mewarnai kulit putihnya. Ia tertawa dengan tawanya yang segera di dengar burung-burung yang bermain di antara dahan pohon murbei.

“Pangeran, anda bisa mengejutkan anak kita”

“Maaf, maafkan ayah, Sayang. Ayah terlalu bahagia mengetahui kau hidup di dalam sana.” Lavin duduk bersimpuh di kaki ranjang agar ia leluasa  mengecupi perut Louisha meluapkan kebahagiaan dan kasihnya yang meluap-luap.

“Sentuhanmu menenangkannya. Dia tidak pernah setenang ini didalam sana sebelumnya”

“Mana-ku adalah obatnya. Kau mempersulit dirimu dan anak kita dengan akting payahmu itu”

“Anda sedang memarahi saya? Dan anda bilang apa tadi? Akting payah?”

“Anda tak mengira saya akan berani? Mamangnya kenapa? Saya suami anda dan akan jadi seorang ayah” Lavin terdengar angkuh ketika mengucapkannya dan itu membuat Louisha makin kesal.

“Apa jangan-jangan anda juga berfikir memukul saya? Seperti yang dilakukan suami sok kuasa diluar sana?”

Cup! Lavin mengecup kening Louisha singkat . Seperti air yang memadamkan api, seperti itu kasih sayang Lavin sanggup meredakan kemarahan dalam hati Louisha.

“Membayangkan betapa sakit dan lelahnya anda mengandung anak saya sudah cukup untuk membuat saya merasa berhutang selamanya pada anda- saya marah pada anda karena anda hanya menyisihkan bagian terbaik milik anda tanpa membagi luka dan rasa sakit anda” tatapan Louisha segera melembut, Lavin selalu cakap dalam hal memainkan emosi Sang Istri.

“Itu karena saya sangat mengasihi anda, Pangeran. Anak ini bukan apa-apa dibandingkan anda yang datang pada saya memberikan semua kebahagiaan yang selama ini hanya saya impikan”

“Anda menyatakan ‘cinta’ lagi-lagi tanpa kata ‘cinta’ agar kelak anda bisa berkilah tak pernah mengatakannya? Agar anda bisa membuang saya lagi?”

“Itu-itu karena kata ‘cinta’ adalah janji. Janji untuk tak meninggalkan seberat apapun yang akan dijalani. Saya tak bisa menjanjikan itu pada anda. Saya mungkin harus meninggalkan anda dan saya tidak akan sedikitpun ragu melakukannya”

“Anda memang selalu suka melarikan diri, Putri. Jadi mari kita lihat bisa sejauh apa anda melarikan diri dari saya” itu ancaman tapi anehnya Louisha malah mendapati perasaan aman setelah mendengarnya.

Nyatanya tak banyak yang berubah dari hubungan mereka. Yang Louisha khawatirkan Lavin akan menjelma jadi suami siaga dadakan, menempel dan mengganggunya kapan pun dan dimanapun tapi nyatanya tidak. Pria itu keliwat tenang, Louisha hanya melihat Lavin dua kali hari ini. Saat sapa Kaisar di pagi hari dan di sore hari. Lavin tak mengajaknya berbincang kecuali meraba perutnya untuk memberikan mana-nya, tanpa kata pria itu mencium kening dan bibirnya singkat. Lavin jelas sedang mempermainkannya dan cerobohnya ia telah masuk ke dalam perangkap pria itu.

“Tidak. Ini karena hormon, aku membayangkan yang tidak-tidak jelas karena hormon kehamilan sialan ini” Louisha memakai teropong-nya, mencari Lavin yang hilang dari radarnya. Tembok sialan yang ia buat sialnya benar-benar berfungsi mengisolasi dirinya dari Lavin.

“Siapa perempuan itu?” Louisha berbicara dengan Marina yang segera ia pinjamkan teropongnya.

“Putri dari Kerajaan Anodhis. Pangeran bertugas menerima kunjungan tamu asing sebagai Pelatihan pertamanya sebagai calon pendamping Kaisar”

“Tapi apa perlu dia tersenyum semanis itu? Apa dia tidak berfikir bagaimana jika Putri dari Anodhis itu menafsirnya sebagai rayuan?”

“Saya ragu Tn. Putri Isis berani menghadapi anda, Putri Mahkota”

“Hanya mengirim Pangeran bukankah kurang sopan? Akan lebih bagus jika aku sebagai Putri Mahkota menyambut beliau secara langsung, bukan? Tolong siapkan gaun formalku”

“Putri, saya menilai justru agak berlebihan Pasangan Penerus Kerajaan sampai turun tangan bersama mengurus tamu”

“Ah ya, kau benar. Tapi- Ugh! Perutku sakit lagi. Tolong panggilkan pangeran! Aku rasa anak ini membutuhkan ayahnya-“

“B-baik, Putri” Louisha sungguhan dengan sakitnya tentu saja. Seharian perutnya marasa keram saking kesalnya pada Lavin.

Tak sampai tiga puluh menit Lavin tiba di paviliunnya. Louisha berbaring di ranjang, kulit wajahnya pucat.

“Istriku, apa rasanya sangat sakit?” Lavin meraba perut Louisha yang memang terasa keras baginya.

“Apa jangan-jangan kau belum makan apapun? Apa kau ingin menyiksa anak kita?”

“Saya kesulitan makan karena terus merasa mual”

“Setidaknya makanlah buah-buahan dan beberapa roti gandum- Marina, tolong bawakan salad buah juga jus buah”

“Baik, Yang Mulia” Louisha meringis menahan geli ketika telapak tangan Lavin menyentuh langsung kulitnya bersamaan dengan gelenyar aneh ketika ia teringat betapa hangatnya pelukan pria itu.

“Anda tidak ingin tidur disini malam ini?”

“Apa sesakit itu? Apa mana-ku tidak berhasil mengurangi rasa sakitnya? Mau ku panggilkan Bea? Dia juga seorang healer-“

“Anda terlalu mengandalkan Beatrich. Saya- saya baik-baik saja. Hanya… Kadang di malam hari saya merasakan sakit yang menyiksa dan tidak efisien memanggil anda saat saya membutuhkannya dengan cepat”

“…”

“Saya bilang begitu sungguh karena anak anda sangat menyiksa saya-“

“Saya faham. Saya akan berada disisi anda malam ini untuk menjaga anda darinya,” Ucap Lavin kembali mengusap lembut perut Louisha.

Sungguh Louisha malu pada dirinya sendiri yang bisa-bisanya membuat alasan sampai menyalahkan anaknya demi membuat Lavin menginap bersamanya malam ini.

Tapi yang diharapkan Louisha tidak terjadi, pria itu dengan santai memindahkan pekerjaannya untuk mengerjakannya sambil menunggui Sang Istri.

“Pangeran, anda tidak tidur?” Louisha buka suara setelah selama lebih dari dua jam hanya keheningan yang menguasai.

“Saya harus selesai dengan semua laporan administrasi wilayah malam ini lagi pula saya dibutuhkan untuk tetap terjaga kalau-kalau anda merasa sakit dan tak nyaman”

“Anda pria pekerja keras, rupanya. Anda dan ayah saya memiliki kesamaan dalam hal ini”

“Saya anggap sebagai pujian, Yang Mulia” dari nada bicara Lavin terdengar seperti ‘bisa kau tidak menggangguku? Aku perlu konsentrasi’ .

“Putri dari Anodhis sangat cantik dan anggun, bagaimana menurut anda?” Pancing Louisha berusaha mengatur ekspresi wajah dan tekanan suaranya.

“Dia juga cerdas. Tak banyak perempuan cantik yang memiliki wawasan luas dan kecakapan bicara”

“Anda pasti sangat menikmati perbincangan dengannya tapi saya malah mengganggu anda dengan ketidak cakapan saya mengatasi penderitaan selama kehamilan”

“?”

“Baik, saya sudah benar-benar mengganggu anda, saya akan mencoba tidur agar anda bisa leluasa bekerja” Louisha berbalik badan memunggungi Lavin. Tak ada suara, Lavin menghentikan gerakan penanya juga berhenti sepenuhnya membaca dan membalik dokumen diatangannya. Berikutnya dapat Louisha rasakan sesuatu yang berat rebah di belakangnya. Itu Lavin, lengan kekar pria itu melingkari pinggangnya, memeluknya dari belakang.

“Anda sepertinya sangat suka memunggungi suami anda” Bisik Lavin memggelitik indra pendengaran Louisha.

“Dan anda sangat suka mengganggu dengan bernafas di tengkuk saya. Lagi pula bukankah anda lebih suka bekerja?” Sindir Louisha sarkastis.

“Anda benar-benar tidak peka atau memang anda sedang menguji kemampuan pengendalian diri suami anda?”

“,,Saya tidak faham”

“Saya hanya akan menyakiti anda ketika kandungan anda sangat lemah. Saya rasa memeluk anda seperti ini cukup efektif” Hanya menikmati sapuan udara hangat di tengkuknya, Louisha pasrah membiarkan Lavin memeluknya. Untuk sesaat keduanya tenggelam dalam fikiran masing-masing.

“Pangeran,” kembali Louisha mengawali percakapan.

“Saya mendengarkan, Yang Mulia. Berikan titah anda”

“Dongeng tentang Raja Biru dan Ratu Putih, anda juga pernah mendengarnya, kan?”

Hm. Ibunda sangat sering mendongengkannya dan anehnya saya selalu merasa kesal setelah mendengarnya”

“Kesal?” Louisha berbalik tiba-tiba hingga posisi keduanya menjadi begitu intim. Pipi Louisha bersemu merah ketika hidungnya dan hidung Lavin bersentuhan.

“Anda benar-benar menguji saya” tegur Lavin segera direspon Louisha dengan memjauhkan kepalanya dari Lavin sementara pinggangnya masih dalam rengkuhan lengan kekar pria itu.

“Dari pada itu… Mengapa anda merasa kesal pada sebuah dongeng?”

“Ratu Putih menikam dirinya sendiri dengan tombak, agar Raja Biru mendapatkan kembali mana-nya yang diserap anak dalam kandungannya. Dia hanya perempuan kejam dan keji, dia bahkan tidak berhak menyebut itu cinta hanya karena ia memiliki nafsu primitif terhadap Raja Biru”

“Itu karena ia lebih mencintai Raja Biru ketimbang dirinya sendiri dan anak mereka”

“Entah, jika itu cinta harusnya ia lebih berani berjuang.”

“Itu karena dia begitu tak berdaya”

“Maka jangan mencintai jika dia selemah itu. Yang Mulia, jika anda berada diposisi Ratu Putih, saya akan sangat membenci anda jika anda memilih mati dan mengorbankan anak kita terlebih jika itu untuk saya” Lavin tak main-main dengan perandaian tersebut, Louisha bisa merasakan kilatan tak dikenal di mata indah suaminya. Tatapan itu seperti tatapan pria beambut perak di mimpinya.

“Anda lebih mencintai anak ini padahal dia belum lahir? Padahal saya istri yang anda pilih?” Louisha segera membelokkan arah pembicaraan mereka sebelum Lavin menjadi lebih serius.

“Apa ini? Anda cemburu pada anak anda sendiri?”

“Saya kesal. Kesal karena anda berada disini karena dia bukannya karena saya. Anda bahkan menahan diri karena dia juga- padahal kita sudah lama tak sedekat ini-“

“Jadi anda merajuk karena,, anda tau saya tak pandai menahan diri tapi anda terus memprovokasi saya. Anda berada dalam masalah besar sekarang,”

“,, Sekedar informasi, Saya pandai melewati situasi krisis”

“Saya akan padamkan lenteranya jika anda mengizinkan”

“Jangan lupa usir juga semua penjaga dan pelayan,”

“Saya menerima titah anda, Yang Mulia” Lavin mengedipkan mata seductif sukses membuat wajah Louisha memanas karena malu.

‘Tanpa tau malu, tanpa kenal takut, takluk pada emosi primitif yang menarikku terus jatuh tenggelam dalam pesonamu, aku melupakan segala kecemasan yang menyiksa. Hanya mempercayai bahwa kita pernah dan kembali ditakdirkan, bahkan jika itu takdir buruk, jika memilihmu berarti menyerahkan diri pada Hades, jutaan kalipun aku akan tetap meraih tanganmu, jatuh ke pelukanmu, melebur bersamamu dan sekali lagi memutuskan untuk menjadi lebih berani. Berdiri disisimu , menjadi kekuatanmu’

***

Pagi ini Louisha bangun dalam pelukan Lavin, ia merasa sakit disana-sini namun seperti sudah diisi penuh, ia merasa lebih bersemangat. Ia mandi lebih dulu, berpakaian dan memeriksa jadwalnya, Lavin masih tidur seperti bayi, terlihat jelas dia mengosongkan mana-nya semalam tadi. Louisha mengecup kening Lavin sebelum pergi.

“Pangeran, anda bangun kesiangan padahal kita punya banyak pertemuan”

“Saya hanya perlu lima belas menit untuk mandi dan berpakaian, sepuluh menit untuk sarapan dan kita bisa segera menyelesaikan semuanya. Sier, kau perlu romansa untuk hidup. Mau ku kenalkan pada ksatria wanita Blue Spring?”

“Pangeran, Saya harap anda hanya bercanda”

“Sungguh, kau pria yang sangat membosankan, Sier”

“Saya akan menyiapkan sarapan anda sementara anda mempersiapkan diri, Yang Mulia” Lavin hanya menggeleng frustasi menghadapi kekakuan Pelayan Pribadinya itu.

Deretan pertemuan dengan tamu asing, kunjungan formal pada beberapa departemen yang ia bawahi hingga makan siang bersama Kaisar, Lavin menjalankan rutinitasnya tanpa masalah. Tapi ia sadar akan masalah sebenarnya kini berada di depan mata. Ia melakukan telepati dengan mana-nya ketika Monster Mata Kelabu yang merupakan Pamannya terus mencoba menghubunginya sejak malam purnama terakhir yang berlalu begitu saja.

“Pangeran, mau kemana anda selarut ini dengan kuda anda?” Tanya Sier yang selalu berjaga didepan pintu kamarnya.

“Menemui Pamanku, kau boleh menyertaiku tapi pastikan merahasiakannya dari Putri Mahkota atau siapa pun”

“Saya memenuhi titah anda, Pangeran”

Lavin berkuda sepanjang malam tanpa kenal lelah, ia berpacu dengan waktu sementara takdir naas-nya dengan Louisha saat ini sedang ditulis.

“Paman, Saya datang”.

“Masuklah, Keponakanku”

. . .

Berambung,

Epilog:

Ratu Ertha, memeluk bayinya yang kedinginan dan tak sadarkan diri seakan jiwanya tak berada dalam tubuh mungil itu. Pangeran Rubel, kembali dari peperangan dengan jubah putih bernoda darah. Ia segera menghadap begitu mendengar kelahiran keponakannya.

“Aku senang kau kembali dengan selamat, Ru”

“Yang Mulia, apa yang terjadi? Bayimu bahkan tidak menangis?”

“Ru, Dia- sepertinya pangeranku tidak akan sanggup melewati malam ini, dia tak bernafas, tubuhnya dingin- kutukannya benar terjadi. Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan, Ru?”

“Yang Mulia, tutup mulut anda jika anda hanya beromong kosong tentang kutukan sialan Keluarga kita. Saya akan membawanya pada Kakek, Saya akan menyelamatkan keponakan saya bagaimanapun caranya” Pangeran Rubel merebut Bayi mungil itu dari dekapan saudarinya.

“Kau- kau tidak berfikir untuk memberikannya jantung Raja Biru, kan? Mohon katakan bahwa yang ku fikirkan saat ini adalah tidak benar-“

“Yang Mulia, biarkan Langit memenuhi takdirnya. Aku tidak akan membiarkan Putramu mati dengan jantung yang membeku”

. . .