Diposkan pada kisah cinta

Mencintai Penuh Kesedihan

Diperjalanan pulang, dalam angkutan umum yang sepi karena sudah sangat sore, saya searching youtube dan menemukan sebuah lagu bagus yang merupakan sountrack sebuah drama.

Biasanya saya menonton dramanya dulu baru kemudian bisa menemukan perasaan dalam soundtrack-nya tapi kali ini berbeda.

Ada sebuah kutipan lirik yang membuat air mata saya jatuh merembih terbawa pusaran emosi. Apa karena saya pernah merasakan perasaan yang sama seperti bunyi lirik tersebut.

‘Ada hari ketika aku mencintaimu dengan penuh kesedihan’

Mencintai seseorang tak mulu membuat perasaan bahagia. Saya setuju jika kamu bilang cinta membuat seseorang cerah, bersemangat dan bergairah. Pada puncaknya cinta seperti itu bukankah sering kali membuat kelelahan? Karena cinta yang begitu menggebu dan berapi-api juga membakar semua energi yang kita miliki sementara di masa depan kita memerlukan lebih banyak energi untuk berjuang mempertahankannya.

Saya menolak mati sebelum perang usai. Sedangkan saya tau pasti saya tidak akan sanggup bertahan untuk mencintai orang itu lebih lama lagi.

Saya seperti ladang ranjau untuknya. Yang jika ia melangkah lebih jauh menuju saya maka orang itu akan celaka. Tak peduli betapa cinta itu membahagiakan saat ini, ketika akal memaksa untuk usai maka saya harus melepasnya tak peduli apa.

Saat mendengarkan lagu sedih tersebut hari ini, masih mempercayai keputusan sebelumnya saya rasa diberi kesempatan ulang pun saya akan mengambil jalan yang sama;

Melepas orang itu.

Dimana pun orang itu berada, saya harap dia menjalani hidup yang penuh arti bersama orang yang berarti baginya.

***

Diposkan pada Novel

Done ‘Part-1’

Orang bijak bilang kenangan adalah candu. Dia ingatan yang dengan mudah timbul dan tenggelam dalam fikiran, sesuatu yang mendorongmu mendrama suatu peristiwa. Mengingat-ingat masa lalu juga merupakan kebiasaan buruk. Sama seperti rokok bagi Ayah dan secangkir ekspresso bagi Ibu, pemuda itu adalah kebiasaan burukku.

Ya. Pemuda yang sedang mengetuk jendela kamarku pagi buta begini.

“Lin! Lintang!” Dia berteriak dengan berbisik. Aku tau dua kata tadi tak bisa dipadankan. Tapi itulah yang pemuda itu lakukan saat ini. Ia berusaha merusak pagiku tanpa ingin ketahuan Ayahku, Om berkumis yang ditakutinya.

“Hoy! Putri tidur!”

Dia memanggilku putri tidur. Apa artinya dia pangeran berkuda yang datang demi membangunkanku dengan sebuah ciuman?

“Aku tau kau mendengarku. Jangan mengabaikanku hanya karena kau lupa mengembalikan buku catatanku”

Buku catatan? Ulangan IPA?

Brak! Bug!

Brak. Itu suara jendela kaca berframe kayu yang ku buka kasar. Dan,

Bug. Itu suara Langit yang jatuh kepentok jendela. Bukan langit sungguhan, Langit adalah nama pemuda itu. Nama ‘Si Kebiasaan Buruk’ Lintang.

“Sorry,”

Tak menunggu jawabannya ku serahkan buku catatan IPA miliknya yang minggu lalu ku pinjam.

“Sorry juga bukunya. Kau belum belajar karena aku”

“Bagaimana denganmu? Kau menggunakannya untuk belajar?”

“Iy- en-enggak”

“Ck.Ck.Ck. Harusnya aku tau, anak nakal pemalas sepertimu mana mungkin mau capek-capek belajar”

Dia mengomel lagi. Kupingku selalu panas tiap ibu mengomeli tapi anehnya terhadap Langit tidak. Aku suka mendengar omelannya, decak lidahnya juga ekspresi sebalnya. Bertemu Langit sepagi ini rasanya seperti mengisi penuh energi di dalam tubuhku.

“Bu, sarapan pagi ini apa?”

“Roti telur kesukaanmu”

“Masukin kotak bekal saja, Bu. Lintang sudah kesiangan”

“Kotak bekalnya besar sekali,”

“Isi penuh ya, Bu. Lintang butuh banyak energi hari ini”

Kali ini yang ku maksud adalah energi betulan. Aku lupa ulangan IPA tapi tidak lupa kompetisi melukis di Balai kota. Aku mewakili sekolahku tahun ini.

“Tangan kamu kotor sekali, kantung matamu juga tebal, Lin. Kamu begadang melukis semalam?” Perhatian Ibu memang tidak bisa dialihkan, ia tetap bisa melihat kedua tanganku yang penuh lumeran cat.

“Tidak juga. Lintang tidur jam tigaan. Bu, makasih bekalnya. Lintang berangkat, Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam”

.

Aku sudah benar-benar terlambat. Gerbang sekolah sudah ditutup. Tidak ada Pak Satpam yang biasa berjaga, padahal aku yakin bisa masuk ke dalam karena aku harus bertanding mewakili sekolah pukul delapan nanti.

“Lintang?” Suara Langit muncul dari balik dinding.

“Ya, Langit! Aku diluar sini!”

“Kau bisa naik ke atas batu besar disana dan memanjat, kan? Aku akan menangkapmu dari bawah sini”

Batu? Benar. Ada batu sebesar ini bagaimana aku bisa tidak lihat.

“Kau yakin bisa menangkapku?”

“Kau tidak ingin masuk?”

“Tentu. Sebentar,”

Aku bisa memanjat tapi tidak berani melompat. Langit menangkap tubuhku seperti menangkap buah mangga saja. Ia tak goyah sedikitpun.

“Berapa beratmu?” Tanyanya seraya menurunkan kakiku ke tanah.

“35”

“Kau sudah sarapan?”

“Aku minta ibu masukkan makananku ke dalam bekal”

“Makan dulu kalau begitu,”

“Kita sudah terlambat, aku akan makan break kompetisi saja”

“Jam 11? Kau mau beratmu jadi 30? Lalu angin besar menerbangkanmu?” Ia mulai mengomel lagi. Lagu favorite-ku.

Wah, kau fikir aku layang-layang? Kedengarannya kau sedang memuji. Ngomong-ngomong layangan apa? Kupu-kupu? Teratai?”

“Cumi-cumi” jawabnya sambil mengambil langkah agar aku mengikutinya, tentu saja.

“Itu juga lucu. Jadi, dimana aku bisa makan tanpa ketahuan?”

“Ikut aku,”

*

*

“UKS?” Lintang membuka pintu UKS dengan kunci dari dalam saku kemejanya.

Hm. Aku izin sakit satu jam pelajaran untukmu”

Dia berbohong untukku?

“Bagaimana denganku? Apa mereka tidak akan mencariku?”

“Kita tinggal bilang kau menemaniku di UKS maka semua akan baik-baik saja. Jadi sekarang, sarapanlah”

Wah, itu sebabnya orang pintar paling berbahaya jika jadi politisi.

“Ya, Bu. Lintang cinta Ibu”

Begitu gurauku. Atau… cara pintasku menyatakan perasaan ambigu-ku pada Langit. Perasaan yang sangat terlambat bagiku menerjemahkannya. Perasaan yang akhirnya membunuhku secara perlahan. Perasaan yang harusnya terselesaikan dengan baik selagi hanya aku yang memilikinya di sisiku.

Perasaan sesak itu masih menancap di dadaku bahkan setelah melewati belasan tahun.

Bersambung,

Diposkan pada kisah cinta

Kutipan Favorit

  • Jika kau menyukai orang lain apa kau perlu alasan?
  • Aku tidak ingin melihatnya tapi aku terus melihatnya, aku marah tapi aku memikirkannya. Aku peduli padanya jadi aku mempedulikannya dan mempedulikannya lagi dan akhir-akhir ini ada sesuatu yang dia lakukan yang sangat melukaiku, seharusnya aku marah tapi anehnya aku merasa sakit dan sedih. Sebenarnya kenapa aku seperti ini?
  • Dalam hatiku aku melihatmu.
  • Kau tak boleh mencuri sesuatu yang penting bagi seseorang, itu adalah janji tidak tertulis antar teman.
  • Satu hal paling menusuk ke bagian terdalam kehidupan adalah cinta.
  • Kau tak bisa membuat harmoni dengan orang yang tak kau suka.
  • Tidak ada orang yang dapat menyakitimu kecuali mereka yang benar-benar kau pedulikan dan mereka yang tidak benar-benar peduli padamu
  • Orang yang pantas kau tangisi tidak akan membuatmu menangis. Dan orang yang membuatmu menangis tidak pantas kamu tangisi.
  • Sahabat adalah dia yang tau kekuranganmu tapi menunjukkan kelebihanmu. Dia yang tau ketakutanmu tapi menunjukkan keberanianmu.
  • Sahabat adalah orang yang tau kekuranganmu namun tetap memilih bersamamu ketika orang lain meninggalkanmu.
  • Sahabat adalah dia yang tau apa yang dia miliki saat bersamamu, bukan dia yang sadar apa yang hilang darinya setelah meninggalkanmu.
  • Sahabat bukan mereka yang menghampirimu ketika butuh, namun mereka yang tetap bersamamu ketika seluruh dunia menjauh.
  • Sahabat adalah mereka yang tahu bahwa ada sedih di matamu ketika seluruh dunia percaya dengan senyum di wajahmu.
  • Sahabat bukan tentang siapa yang telah lama kamu kenal tetapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tak pernah meninggalkanmu.
  • Masalah terbesar wanita adalah mengingat terlalu banyak. Dan masalah terbesar pria adalah melupakan terlalu cepat.
  • Suatu hubungan berakhir karena salah satu hati terlalu sedikit mencintai dan atau terlalu banyak.
  • Pelajaran tanpa pengorbanan tidak ada artinya sebab manusia baru akan mengingat sesuatu apabila ia merasa kehilangan.
  • Kalau itu kenangan berarti maka jangan lupakan sebab jika manusia mati mereka hanya bisa hidup dalam kenangan orang lain.
  • Kamu tidak perlu alasan untuk menangis, semua yang kamu butuhkan adalah merasakan kehangatan yang terpendam di dadamu.
  • Rasa takut tidaklah jahat, dia hanya memberitahu apa kelemahanmu.
  • Suatu saat akan datang hari dimana semua akan jadi kenangan.
  • Kesalahpahaman adalah bagian dari cinta.
  • Yang kau butuhkan bukan uang ataupun gaun cantik tetapi tempat yang bisa melihat dirimu apa adanya.
  • Berfikir mati karena merasa tidak berdaya adalah kecacatan mental terparah.
  • Kau harus mengenali dirimu sendiri dengan begitu kau tidak akan mengatakan kebohongan dan kebohongan membuatmu tidak dapat mengenali diri sendiri.
  • Menangislah karena saat dewasa nanti akan ada saat dimana kamu ingin menangis tapi kamu tidak bisa melakukannya.
  • Jika kau benar-benar mencintainya maka jangan berpaling. Tidak peduli apa yang terjadi, tidak peduli apa yang kau lihat, tidak peduli apa yang kau pelajari tentang dirinya tidak terlihat lagi. Setelah kau punya dia dipelukanmu, jangan biarkan ia pergi. Sekali kau memutuskan mencintainya maka dia tanggung jawabmu.
Diposkan pada puisi

Belantara

Dalam ruang emosi yang sesak,

Nada-nada tergugu saat berlarian menjauhi keramaian,

Tawa dan olok-olok yang memukul sepi,

Melukai dasar emosi,

Melebar dan perih,

Basah bernanah.

Setiap nada yang kau ciptakan,

Petikan gitar yang memecahkan keheningan malam,

Kau persembahkan untuk siapa?

Angin barat berat berair,

Membawa miliar ton uap menjadi hujan,

Kau tahankan kerinduanmu teruntuk siapa?

Kau memandang ke pusat senja dalam perjalanan pulang yang kau benci

Kau pulang untuk siapa, selalu hatimu dipenuhi tanya yang sama.

Kubangan emosi pekat penuh kemarahan, benci dan kecewa

Dibias cahaya pelangi sedih dibasuh hujan air mata,

Tawamu yang kau rindu itu tawa siapa?

Hidup bagai debu bertabur mencari tempat hinggap dan bertahan,

Kesia-siaan ini seperti tak berujung lagi berpangkal.

Diburu waktu,

usia bertambah,

tubuh merenta,

semangat memudar,

Duka itu kau peluk sendiri.

Lantas siapa yang datangnya kau tunggu di senja kala?

Sebentar lagi hujan,

Akan bagus jika orang itu tak datang hari ini, bukan?

Agaknya kau khawatir dia kebasahan di perjalanan,

atau sial lagi jika ia tersambar petir dan mati,

Apa jangan-jangan dia sudah mati?

Oleh petir lalu?

Atau karena hipotermia?

Apapun alasannya, kau menjadi lebih khawatir sekarang.

Kau berbisik lirih di sela hujan deras malam ini,

“mohon hiduplah di suatu tempat dan berbahagia”

Tentu,

Aku akan berbahagia,

Berbahagia karena bebas memandangimu…

Meski sayangnya aku tak lagi hidup…

Diposkan pada kisah cinta

Done

Aku tau jika aku tiba-tiba menghubungimu seperti ini maka kelak aku harus membayar harganya. Aku juga tau aku mendatangimu begini maka kau akan berfikir aku gila atau konyol. Aku tau bahwa kau tak akan pernah menyambut tanganku karena tanganmu telah memegang tangannya. Tak peduli siapa yang pertama singgah dalam hidupmu, karena yang terpenting adalah siapa yang menyentuh hatimu dan memilikinya. Dan orang itu adalah dia.

Lepas darimu sama sulitnya dengan lepas dari bayang-bayang. Yang hanya bisa ku lepaskan di kegelapan malam setelah lelah menangisimu dalam kesunyian senja.

Sudah ku putuskan tak menanyakan perasaanmu demi menjaga hubungan yang terlanjur ada. Agar kau tetap merasa nyaman berteman denganku, agar kau tak terbebani dengan perasaanku.

Aku tak pernah menduga betapa berartinya setiap moment yang kita lewatkan hingga aku memutuskan menjaga ingatan itu meski ia menyakiti secara bersamaan. Meski ingatan itu meminta dilepaskan sebab ia bukan milikku juga bukan milikmu. Sebab aku hanya menyukaimu seorang diri tapi kau tidak.

Aku menghubungimu tiap malam dengan banyak alasan sembarang yang tak jarang kau menyambutnya dengan keluhan. Tapi aku suka mendengar suaramu, dan baru setelah mendengar omelanmu maka aku bisa memejamkan mata.

Aku suka saat kau memanggil namaku. Aku suka saat kau menghubungiku lebih dulu meski sekedar bertanya;

“Apa Mie Ayam di sebelah rumahmu buka?”

Aku suka saat kau mencariku meski untuk meminta bantuan remeh seperti menumpang charging sebab di daerahmu sedang pemadaman.

Aku ingat betapa spesialnya jalan menuju sekolah yang ku lalui setiap hari bersamamu.

Kini, tiap kerinduan konyol ini mencekikku. Selanjutnya hal terkonyol lain yang ku lakukan adalah berjalan kaki ke sekolah sambil membayangkan kau bersamaku, di setiap langkah, kita bernafas bersama.

Tapi tidak, aku tak mau membodohi diri sendiri lagi, aku tak mau sekedar menjadi karakter tambahan dalam kisah yang pemeran utamanya kau dan dia. Ku putuskan untuk menjadi mengganggu terbaik dengan terus menempelimu.

Mungkin kau akan membenciku, aku menerima makianmu, hingga aku melihat keburukanmu dan aku bisa melepasmu dengan sendirinya.

Selesai tidak selesai,

Perasaan ini harus usai.

Diposkan pada kisah cinta

Berat Isi Kepala

Kita tau, sama-sama tau bahwa kita menafsirkan bahagia dengan cara berbeda, Pun juga kesedihan. Kita meraba bagai orang buta bagian mana dari diri kita yang mudah untuk tersentuh bahagia lantas kita melepasnya di belantara emosi. Dan ketika kita menemukan bagian yang mudah di rasuki sedih, kita akan memeluknya kuat-kuat agar seseorang tidak melukainya. Nama untuk bagian tersebut adalah: Harga diri.

Seperti apa kita menjalani hari, dari Shubuh hingga petang, kita larut dalam pengejaran waktu bersamaan juga kita melupakan apa yang kita lakukan karena sebagian dari kita hanya mengikuti naluri untuk terus lari ketika merasa dikejar.

Waktu yang mengejar kita atau kita yang mengejar waktu, kita masih tak tau mana yang benar dari keduanya atau bisa jadi tak ada yang benar dari keduanya. Mungkin waktu hanya mengawasi sambil terus menghitung saja, sambil terus mengambil dan memberi segala yang berbeda hingga kita keliru itu perampasan atau tebusannya.

Tapi kita juga tau waktu menghadapkan kita pada banyak pintu dan kesempatan. Selalu kita merasa takut untuk memilih meski juga antusias pada hasilnya kelak. Dan ketika kita sadar akan gagal, kita melihat kanan-kiri mencari perkakas berupa segudang alasan untuk lari tanpa lebih babak belur.

Caramu bersedih dengan mengumpat keadaan demi tetap waras ku kira cara praktismu untuk kembali bangkit dari keterpurukan. Aku melihatnya lebih baik ketimbang kau mengunci dirimu di dalam hatimu untuk kau cerca dan kau persalahkan. Lalu kau berakhir mengambil tali dan menjerat hidupmu.

Kadang, ketimbang penyelesaian atau bantuan yang kau butuhkan hanya pembenaran bahwa kegagalan ini, kesalahan ini, kecacatan nasibmu, dan semua perasaan sesak ini bukanlah salahmu. Ya. Bahwa yang kau butuhkan untuk tetap bertahan adalah melepas rasa bersalah di dadamu. Rasa bersalah yang menjadikanmu manusiawi pada orang lain namun kejam bagi diri sendiri.

Bahwa kau berkesempatan menjadi sedikit egois ketika kau menginginkan kehidupan melebihi keputus-asaanmu. Lantas apa salahnya? Semua orang egois karena kita lahir dari kemenangan hakiki ketika hanya ada satu sperma yang berhasil memenangkan persaingan dari jutaan yang mesti mati. Kita lahir dari seleksi alam yang diyakini orang jenius masa lalu. Apa salahnya? Kita hidup sebagaimana orang lain hidup, mereka di luar sana menggunakan ekspresi bahagia dan sedih yang sama seperti kita. Meski untuk banyak alasan berbeda tentunya.

Saya tak begitu faham kenapa mereka melakukan ini dan itu, mengambil keputusan begini agar begitu, memilih bersama si Anu dan Si Ini. Lantas apa? Saya pun, kamu pun, kita bebas berfikir, menilai dan mengambil tindakan mulai yang wajar hingga ekstrim. Bahkan saya melakukan banyak hal ‘drastis’ lima tahun belakangan. Disengaja atau tidak saya berubah dan berkembang menjadi diri saya hari ini. Suka atau tidak suka. Lepas dari saya puas sekaligus menyesalinya tapi saya berani hidup dan akan semakin lebih berani kedepannya. Kamu juga, harus!

Karena bukan situasi atau latar belakang kita berasal yang membuat hidup ini terasa berat dan sesak, melainkan isi kepala kita sendiri yang menjadikannya sempit untuk kita menatap dunia.

Yang perlu kita lakukan hanya mengambil langkah dan pergi ke luar menjauhi ruang menyesakkan ini. Ada banyak buku jika kau suka membaca, jika pun tidak kau bisa membaca dunia ini secara terang lewat warna, gerak dan keindahannya yang beraneka dan hidup.

Jika saya sedang kalut, depresi dan kesepian maka hal mudah yang akan saya lakukan adalah keluar rumah membeli minuman dingin, memanggil pedagang apapun yang lewat di depan rumah, makan di teras sambil mendengarkan suara ritmis yang dihasilkan pergerakan angin dan dahan pohon nangka di depan rumah kemudian saya akan mengingat sejumlah hal baik yang pernah terjadi dalam hidup. Saya menemukan kemudahan untuk mengucap syukur dengan jalan sesederhana itu.

Tentu akan lebih mudah lagi jika saya bisa melepaskan kepala dan menyimpannya sejenak.

Bagaimana dengan kamu? Ya, kami yang membaca tulisan ini. Saya memang tak mengenalmu tapi saya tau kita sama-sama hidup dan mesti hidup, saya berharap kamu menemukan caramu sendiri untuk menangani kesedihan juga kekecewaanmu.

Kau melakukan yang kau bisa di masa lalu dan jika itu kurang memuaskan maka selalu ada kesempatan untuk membuat awal yang baru. Terus yakini itu.

Oh beratnya isi kepalaku…!

Diposkan pada kisah cinta, kisah sedih

Tiga Gelas Kosong

Dia menghubungiku lagi, katanya kami perlu bicara. Ku bilang tak ada hal yang ingin ku bicarakan dengannya. Dia menghela nafas panjang, suaranya yang agak terbata diseling nafas berat terus memohon padaku untuk datang. Aku tau dia hanya akan mempermainkanku saja, dia membutuhkanku karena aku mudah ditindas olehnya. Orang yang mudah diabaikan tapi mudah pula disuruh kesana-kemari. Orang tuanya pun tak akan pernah menganggapku sebagai wanita yang kelak akan menjadi bagian keluarganya.

Aku akan tegas kali ini. Aku tidak akan jadi pecundang dalam kisah ini. Dia tidak akan bisa mengendalikanku lagi setelah kealvaannya setahun terakhir.

Aku masih ingat betapa putus asanya aku ketika ku gedor gerbang tinggi rumahnya tahun lalu. Aku tak bisa menghubunginya, bukan karena nomornya diluar jangkauan melainkan karena ia sengaja mengabaikannya. Lagi. Aku cemas, takut juga marah, semua perasaan yang membuat dadaku sesak memohon untuk diluapkan. Tapi bahkan ia tak memberiku kesempatan untuk melihat wajahnya dan melampiaskan semuanya padanya.

Setahun yang menyesakkan dengan air mataku jatuh sepanjang tahun akhirnya usai. Aku akhirnya bisa berdiri tegak tanpanya, memulai kembali bisnis kecil-ku yang dulu pernah ku tinggalkan karena sibuk menangisi bedebah itu. Aku menghubungi beberapa teman lama dan menikmati waktu luang bersama mereka. Ah, aku selalu berenergi tanpa pria berwajah pucat itu.

Empat jam berlalu selagi ku habiskan waktu merangkai bunga pesanan pelanggan, bunga-bunga yang anehnya semakin mengingatkanku padanya. Pada sekelebat ingatan bodoh di awal pertemuan kami. Dia yang tiba-tiba menjamah hidupku dengan alasan membeli bunga krisan putih untuk mendiang kakaknya, dia yang berikutnya rutin datang untuk membeli bunga mawar yang katanya akan ia berikan pada pasangan kencan butanya. Dia yang akhirnya datang dengan alasan ‘karena mawar putih cocok untukmu, aku membawakan bibitnya untuk kau tumbuh dan kau rawat’

Jujur aku tak pernah membayangkan akan mendapat hadiah bunga ketika aku sendiri berjualan bunga. Dan ketika tak seorangpun peduli alasanku membuka toko bunga, hanya kau yang dengan antusias berkali menanyakannya. Pertanyaan yang butuh perenungan lima hari untuk aku menemukan jawabannya

Memberi bunga dan Menerima bunga memberikan perasaan bahagia, ku fikir itu alasannnya.

Sebab siapapun yang datang ketempatku, mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Mereka berbahagia karena mencintai dan ku harap siapapun yang menerima bunga yang ku rangkai, orang itu akan mencintai pemberinya juga.

Dan tiba-tiba saja, ingatan seperti itu melenyapkan sesak di dadaku.

“Aku akan menunggu, tak peduli berapa lama”

Dan berapa lama yang kau maksud itu tentulah tiga gelas orange juice yang kini kosong tinggal embun.

“Mbak, Mbak cari mas yang duduk disini?”

“Ya. Tapi dia sudah pergi”

“Bukan pergi, Mbak. Si Mas-nya di bawa ke rumah sakit setelah batuk darah dan pingsan”

. . .

Lalu hari berikutnya bukan mawar putih yang kubawa padamu melainkan krisan. Bunga yang mengawali pertemuan sekaligus mengakhiri hubungan penuh air mata ini.