Mr. Ice Cream

Baca Sebelumnya: Ekspresso

Dia benar-benar datang menjemputku. Dia bilang tidak akan datang tapi ia tetap datang.

“Kau tidak masuk?” Tanyanya dengan nada sedikit jengkel mungkin karena ia tak suka keluar di hari terik.

“Tolong buka pintunya, tanganku kerepotan” Adjie melihat cup kopi di tanganku, ku lihat seulas senyum pada bibir merah tipis itu.

“Sudah. Cepatlah masuk”. Katanya seraya menengadah tangan meminta cup kopi yang ia tau adalah miliknya.

Seperti anak kecil yang mendapatkan mainannya, ia fokus sejenak pada ekspresso di tangannya.

“Kau menambahkan creamer?”

“Kau suka?”

“Tidak terlalu buruk. Hanya, kafein saja sudah cukup bagiku”

Itu caranya mengatakan tak suka.

“Haruskah kau memakai pakaian training se-ketat itu? Kau tidak sadar banyak mata tertuju padamu?”.

Ah, benar. Aku mengajaknya bertemu tapi tidak memperhatikan penampilanku. Adjie selalu tak suka melihatku memakai pakaian minim, ketat juga berbahan tipis dan licin. Apa alasan tepatnya aku tak tau. Cemburu? Sepertinya tidak.

“Memang apa yang menarik untuk mereka lihat dariku? Kau saja tidak pernah memandangku”

“Aku? Apa aku begitu?”. Ia bertanya dengan bodohnya, tanpa rasa bersalah.

“Memangnya tidak? Kau selalu mengabaikanku”. Aku tidak bisa menahan kejengkelan setiap kali ia bersikap ambigu diantara lugu dan acuh itu.

“Kau tau aku sibuk. Jadi, kemana kita akan pergi?”

Sibuk. Selalu begitu ia beralasan.

“Tidak bisakah kau berinisiatif?”

“Kau menjadi sangat sulit belakangan ini. Kenapa tidak to the point saja? Aku tak suka kau bicara berputar-putar begitu.” Sial. Aku tak bisa membuatnya marah pada kencan terakhir kami.

“Maaf. Kita pergi makan siang saja? Ku fikir kau pun belum makan”. Ajakku seraya melingkarkan tangan ke lengannya. Adjie selalu suka ketika aku berinisiatif melakukan kontak fisik lebih dulu. Meski ia tak pernah mengatakan ‘suka’ namun ia pun tak pernah menolaknya.

“Baiklah. Kita ke restaurant sea food favorite-mu”

“Jangan. Kau tidak bisa makan itu”

“Aku sudah makan bersama Alan di kantin kampus tadi”

Alan lagi. Aku mulai bingung siapa pacarnya, aku atau Alan.

Ah ya?”

Hm. Aku akan menemanimu saja”

Apakah itu berarti tetap aku ‘pacar’ baginya?

Adjie melepaskan diri dari rengkuhanku begitu ia hendak menarikkan kursi untukku. Meski ia jarang berkata manis namun ia selalu memperlakukanku dengan sangat istimewa.

Ia memesankan dua lemon tea dan lobster manis pedas kesukaanku sedangkan untuknya salad buah.

Pesanan datang lima belas menit kemudian setelah keheningan nyaris melahap habis hatiku. Adjie bahkan masih menatap layar monitor laptopnya- berkutat dengan pekerjaannya.

“Kau sungguh akan pergi sendiri? Tidak bisakah aku menemanimu? Memikirkanmu mengurus semuanya sendirian membuat hatiku sakit”. Aku membuka pembicaran atau lebih tepatnya uneg-uneg yang susah payah ku simpan seminggu terakhir sejak ia mengakui semua kebohongannya.

“Karena itu menyakitimu maka ku bilang kita putus saja”

Aku tau dia akan berkata begitu untuk membuatku bungkam tentang keluh kesah hubungan kami juga tentang sakitnya.

“Kau fikir putus denganmu akan membuatku merasa lebih baik? Aku akan menjaga dan merawatmu seumur hidupku. Itu keputusanku,”

“Dan keputusanku adalah tidak melibatkanmu dalam penderitaanku. Kau membebani hatiku jika kau terus merengek begini”

“Maaf, bukan maksudku membebanimu. Aku akan merasa lebih tenang jika bersamamu, itu saja”. Ucapku bersungguh-sungguh.

“Aku akan baik-baik saja. Lagi pula ini hanya memakan waktu 2-3 hari, jangan terlalu berlebihan mencemaskanku” Adjie menanggapi dengan tenang anehnya malah membuatku merasa was-was.

“Apapun hasilnya kau harus memberitahuku, setidaknya janjikan itu”

“Baiklah. Aku akan memberitahumu. Kau puas?”

“…”

“Yuri, lihat aku”. Pintanya seraya meraih jemariku dan menggenggamnya erat namun lembut.

“Ku bilang lihat aku.” Ulangnya menahan nafas berat.

Ada saat dimana aku begitu takut melihat matanya. Adjie, pria yang ku cintai semenjak usiaku 12 tahun adalah pria dengan tatapan yang tidak pernah bisa ku tafsirkan.

“…”

“Aku akan baik-baik saja. Percayalah,” Bisiknya.

“Harus. Karena kita memiliki banyak kesempatan baik di masa depan. Kau sudah berjanji akan menikahiku, maka kau harus menepatinya”

“Tentu”

Bahkan saat ia mengiyakan ide hidup bersama, aku masih takut. Takut kalau-kalau ia berubah fikiran.

“Aku mencintaimu, Adjie”

Hm. Aku tau”

Club Baca,

“Ada apa dengan wajah murung itu, Uhm?” Aku hanya menggeleng, fikiranku penuh akan banyak hal dan kesemuaan itu andai bisa ku lepas sesaat seperti Dheta yang melepas tas ranselnya.

“Kau sakit?” Dheta duduk dan menyentuh dahiku. Sentuhannya selalu tangannya dingin, entah mengapa.

“Bukan. Tubuhku baik-baik saja, tapi hatiku tidak. Dia selalu membuatku was-was.” Dan lebih anehnya sentuhan itu mampu membuatku buka suara terbuka padanya.

“Siapa? Tuan Bukit Es?”. Suara Widya mengintrupsi, ia mengambil dua botol cola dari dalam kulkas, memberikan dua untuk kami.

“Mr. Ice cream.” Ralatku.

“Terserahlah. Jadi apa lagi sekarang? Dia pergi dengan rekannya yang sexy itu?”

“Sudah ku bilang saat itu kesalah fahaman. Mereka pergi untuk perjalanan bisnis”

“Baiklah. Jadi apa?.” Tanya Widya dengan nada frustasi meski aku berani bertaruh ia frustasi karena masalah lain.

“Adjie berbohong padaku tentang sakitnya. Semalam ia baru berkata jujur setelah ku desak berulang kali”

“Dia masih sakit?” Kali ini Dheta yang bertanya. Ia kelihatan cemas mungkin karena ia memiliki kedekatan khusus dengan Adjie. Tentu hanya sebatas teman.

“Ya. Ia juga berbohong tentang mendapat donor”

“Putus saja! Aku tak suka sahabatku hidup untuk merawat orang sakit sepanjang hidupnya” Widya berapi-api.

“Widya…”

“Dheta! Katakan sesuatu padanya”. Ia mulai mengkonfrontasi Dheta.

“Biarkan Yuri memutuskan sendiri. Mereka pernah berpisah tapi akhirnya mereka kembali bersama, Adjie hanya kurang bijak sedang sahabat kita terlalu mencintainya”

“Omong-omong tentang cinta… Aku bertemu Alfin di ‘With coffee’ siang tadi”

“Alfin?”

“Apa yang kau maksudkan Alfin yang itu? pria yang membuatmu patah hati?” Sambar Widya lebih berapi-api.

“Aku? Patah hati? Kami berakhir secara baik-baik” Dheta berteriak frustasi sukses membuat kami bungkam. Harusnya tak ku sebut nama Alfin dihadapannya.

***

“Kau berkemas untuk perjalananmu? Akan berapa lama kau di sana?”. Tanya Alan, pria berkemeja putih begaris vertikal biru itu berdiri di ambang pintu, mengamati sahabatnya mengepak pakaian ke dalam koper.

“Seminggu atau lebih. Aku perlu pemulihan pasca dealisis” Jawab Adjie tanpa menatap lawan bicaranya.

“Bukankah kau bilang sebelumnya dealisis tidak akan diperlukan?”

“Ku katakan itu karena Yuri di sana. Dia tidak akan bisa mengendalikan dirinya saat ia tau aku tidak pernah baik-baik saja”

“Maka ku minta kau setuju untuk menjalani pengobatan di Singapura” Suara Alan naik beberapa oktaf.

“Tidak melihatnya ketika aku bahkan tak tau apa akan kembali dalam keadaan hidup atau mati, aku tak memiliki keberanian”

Alan menghela nafas panjang. Sedari dulu Yuri tetap menjadi alasan Adjie ketika memutuskan bertahan atau mundur sekalipun.

“Kau, setidaknya biarkan Yuri mengetahui perasaanmu padanya”

“Kalimat ‘aku mencintaimu’ adalah sebuah janji. Aku tak bisa menjanjikan sesuatu dalam situasiku. Aku hanya akan menggenggam tangannya selama mungkin”

Benar katanya. Pernyataan cinta adalah sebuah sumpah dan untuk setiap sumpah memiliki harga mahal berupa kesetiaan dan pertanggungan jawab.

“Kau tidak berencana mencampakkannya lagi, kan? Membuatnya menunggu saat kau menghadapi kesakitanmu sendirian”

Adjie tersenyum menanggapi pertanyaan sahabatnya.

“Aku sudah selesai berkemas. Dari pada mengomel tidakkah kau ingin membuatkan spageti untukku? Setelah masuk Rumah Sakit mereka takkan membiarkanku makan-makanan enak.”

Alan tak tau pasti apa isi fikiran Adjie namun satu hal yang selalu ia yakini; Adjie tidak akan menyerah pada hidupnya.

“Baiklah. Tapi kau yang buat minumnya”

“Tentu”

-TBC-

Iklan

Ekspresso

“Selamat pagi, bisa kau berikan aku segelas ekspresso tanpa gula?”

“Tentu. Tolong tunggu sebentar”

Kesan pertama yang baik selalu diawali dengan senyuman dan keramahan yang tidak dibuat-buat. Dia gadis cantik dengan penampilan sederhana, mencuri perhatianku pada pertemuan pertama. Ia mengambil tempat duduk di sudut dekat jendela yang sengaja disesuaikan menghadap jalanan utama oleh pemilik caffee kami. Gadis itu mengamatiku dari tempat duduknya. Mungkin proses kerja pembuatan kopinya-lah yang menjadi perhatiannya bukan aku, bartender berwajah pas-pasan ini. Ketika tatapan kami bertemu pandang, ia tersenyum. Senyum tersipu yang menambah manis wajah rupawannya. Kemudian ia menglihkan pandangannya ke luar jendela.

Continue reading “Ekspresso”

Album Biru, ‘Lembar-1’

Dulu, dulu sekali, entah itu tahun 1999 atau 2000 pernah ada seorang anak laki-laki, tubuhnya tinggi untuk anak 5 tahunan seusianya. Dia manis dan tampan, kulitnya putih berkilau dibawah sinar mentari pagi. Dia selalu sok dewasa dan tegar namun sebenarnya dia sangat penakut dan penyedih. Dia tidak pernah menangis lebih dari sepuluh menit, tentu setelah kakeknya memberi sebuah es krim rasa coklat. 🙏🍦

Dia, katanya ingin lekas tumbuh dewasa agar bisa melindungi mamanya dan juga seorang gadis kecil cengeng. Gadis kecil itu mungkin usianya sebaya dengan Si anak laki-laki. Hanya tubuhnya lebih kecil, rambutnya sedikit keriting dan suka menangis. Si anak laki-laki bersikap sebagai pelindung, Seperti seorang kakak yang sangat diimpikan. Si Gadis kecil sangat menyayangi dan mengandalkan Si Anak laki-laki. Mereka membentuk pertemanan yang baik dan kompak. 👫🏠🏡

Musim yang paling disukai Si Gadis kecil adalah musim hujan sebaliknya Si Anak laki-laki lebih menyukai musim panas karena ia mudah terkena flu. 😀😷

Musim panas menjadi waktu terbaik keduanya menghabiskan waktu bermain di luar rumah. Permainan yang keduanya suka mainkan adalah rumah-rumahan, boneka-bonekaan, main kelereng, lompat tali dan bersepeda. 🌞

Mereka bermain rumah-rumahan, Si Gadis Kecil berpura-pura sebagai seorang istri yang jago memasak dan Si anak laki-laki menjadi suami yang bekerja di Kantor. Ketika bermain boneka, biasanya Si gadis kecil akan asyik sendiri sementara Si Anak laki-laki hanya mengimbangi. Begitupun ketika bermain kelereng, hanya Si Anak Laki-laki yang mengerti cara memainkannya, Si Gadis Kecil terus kehilangan kelerengnya karena kalah dalam permainan. Ketika semua kelerengnya habis- berpindah pemilik. Agar permainan bisa berjalan keesokannya, maka Si Anak laki-laki mengembalikan kelereng yang dimenangkannya. Begitu seterusnya. 🎬

Ada cerita lucu dibalik permainan lompat tali. Sejujurnya keduanya sama-sama tak tau cara memainkannya namun masing-masing sok bisa dan saling mempengaruhi untuk membeli seperempat kilogram karet gelang warna merah di toko yang letaknya cukup jauh dari rumah keduanya. Saat itu sudah memasuki musim hujan. Musim yang sangat ditunggu Si Gadis kecil. Ketika alam mengirim tanda berupa udara basah, awan hitam dan redup di luar Si Gadis kecil tau bahwa hujan akan segera turun. Ia menunggu di teras sambil memegangi payung kecil berwarna merah kesayangannya. Si Anak laki-laki mengintip dari jendela kamarnya, tersenyum memandangi temannya yang tengah mengulurkan telapak tangan kecilnya kebawah pelimbahan air. Si Gadis kecil nampak kegirangan ketika tangannya basah. Berikutnya ia akan berlari dengan langkahnya yang kikuk menuju guyuran hujan yang deras. ☔😁

“Sayang, Jangan hujan-hujanan nanti kamu sakit”. Sang Mama memarahi Si Gadis kecil, melihat ekspresi ‘ngambek‘ itu Si Anak laki-laki tertawa geli.

“Sedang apa kamu? Tutup jendelanya nanti masuk angin. Minum susunya sebelum tidur siang”. Kali ini Mamanya.

Si Anak laki-laki sangat tidak menyukai tidur siang karena ia lebih suka bermain dengan Si Gadis kecil. Sekalipun itu permainan rumah-rumahan atau bahkan bermain boneka. Ia mengendap-endap keluar melalui jendela,

“Kau tidak tidur siang?”

“Mama sedang sibuk memasak di dapur tak tau aku disini. Kita harus sembunyi agar mama tetap menduga aku tidur di kamarku”

“Tapi kita akan sembunyi dimana? Di luar hujan. Kita tidak mungkin hujan-hujanan”

“Kau punya payung. Kita berbagi payung pergi membeli karet gelang untuk membuat tali. Katakan itu pada mamamu jika ia bertanya”

“Baiklah. Aku ambil uangnya dulu”

“Aku punya uangnya. Kita tidak perlu minta izin, nanti kita tidak boleh pergi”

“Kau tidak takut dimarahi mamamu?”

“Mamaku kalau marah cuma sebentar jadi tak apa. Ayo!”

Dibawah payung merah kecil, keduanya berjalan berpegangan tangan menuju toko di ujung jalan. Mereka mendapatkan sekantung karet gelang dan dengan riang kembali ke rumah. Beruntung tak satu pun dari orang tua mereka yang menyadari kepergian keduanya. Di teras rumah Si Gadis Kecil, dengan baju agak basah keduanya mencoba membuat simpul. Ternyata sangat sulit. Tak ada satupun karet yang bisa dikaitkan. 😫😢😭

“Papa pulang! Apa yang sedang dilakukan putri kecilku, Uhm?”

“Papa? Papa bisa buat simpul karet untuk main lompat tali?”

“Bisa donk. Memang kalian bisa mainnya?”

“Bisa, Om”. Si Anak Laki-laki menyahut lantang dan tegas.

“Kalau begitu Om buatkan. Nanti main bareng, kamu ajari putri Om, yah

“Pasti, Om”

Tapi kemudian Mama Si Gadis Kecil keluar karena mendengar suara Papa.

“Mainnya nanti saja. Lihat, baju kalian basah kuyup. ‘Si Ganteng’ pulang sana, sebelum mamamu khawatir. Main lagi sama ‘Si Manis’ besok lagi, Okay?”

“O-kay, Tante”

Si Anak laki-laki kembali ke kamarnya seperti saat pergi, yakni melalui jendela. Tapi malamnya Si Anak laki-laki jatuh sakit terserang deman dan pilek selama seminggu. Secara alami keduanya melupakan permainan lompat tali yang direncanakan. 🏥🚑

Siapa yang lebih dulu melupakan, siapa yang lebih dulu mengingat, mereka hanya dua anak kecil yang terus bertumbuh tanpa melupakan cara bersenang-senang. Mereka tak begitu pandai untuk menyimpan moment sedih dan sulit. Mereka hanya anak-anak, indahnya masa kanak-kanak.

Disuatu hari di pertengahan bulan Desember Tahun 2018 senja yang berkabut, seorang perempuan dewasa berambut keriting legam berlari keluar kebawah guyuran hujan dengan payung merah kecil usang. Bahunya basah namun senyumnya tak hilang. Ia mendongakkan kepalanya, dengan mata terpejam ia membiarkan wajahnya dihujani, bibirnya mengeja sebuah nama.

‘…. Aku merindukanmu,’

Bersambung,

Surat Tanpa Penerima

Tak pernah ada yang bertanya apakah aku menunggumu atau sekedar menunggu saja. Menunggu adalah pekerjaan berat lagi menjenuhkan, tapi manusia mudah terbiasa dengan apa yang dibiasakannya. Aku tak begitu ingat sejak kapan menunggumu menjadi kebiasaan bagiku. Aku menunggumu diantara kesibukanku menimba ilmu dan mencari nafkah. Aku menunggumu ketika hendak menyebrang jalan, ketika berjalan, ketika berlari, ketika merasa lelah dan ketika kepalaku jatuh tertidur di lantai. Kadang ketika langit sore nampak cerah, ku angkat pandanganku ke atas, hatiku mengeja namamu, memanggilmu pulang lewat udara senja yang keras dan basah.

Menunggu adalah bentuk harapan kecil bahwa suatu hari nanti hari itu akan datang. Atau angan kosong bahwasannya kau tidaklah mati melainkan hanya berada di suatu tempat yang jauh sehingga sulit bagimu datang padaku.

Tempat itu sangat terpencil lagi asing sehingga tidak ada listrik apalagi signal ponsel, alasan kenapa kau tak menghubungiku.

Atau tempat itu sangat menyenangkan hingga kau lupa sesaat terhadapku. Bahkan jika kau menemukan penggantiku disana, itu tetap sebuah alasan untukku menunggumu.

Apa yang terbaik dari memiliki harapan adalah ketika itu menjadi alasanku hidup hari demi hari. Kesepian yang menyiksaku lebih pekat dari kegelapan dan lebih menyakitkan dari tiga mata trisula merobek jantungku, menerima kehilanganmu lebih dari itu bagiku.

Karena senyum manismu lebih dari melumerkan hatiku,

atau tatapan teduhmu yang menentramkan jiwaku dari kekhawatiran,

Mungkin juga rengkuhan tanganmu yang membawaku pada perlindungan penuh kasih sayang,

Mengingat bagaimana ribuan hari kita lalui bersama, penantianku tak terlalu buruk.

Sesekali ku kunjungi tempat yang kita pernah singgahi bersama, banyak tempat telah berubah namun jejak langkahmu dan deru nafas lelahmu dulu, sama terasa memenuhi tempat itu dan tak menjadikannya terasa berbeda bagiku.

Orang bilang kenangan hanya membunuh kehidupan masa depan, ku fikir itu berbeda bagiku.

Kenangan kita, justru menjadikan alasan bagiku untuk hidup di masa depan.

Meski itu hanya bermakna penantian panjang yang tak mengenal batasan.

Ingat ketika kita membatasi buku yang kita baca bersama dengan selembar daun maple?

Kita tidak mempercayai mitos menangkap daun maple akan menjadikan dua orang berjodoh, kita hanya menganggap mitos itu sangat manis, romantis dan klasik.

Klasik. Kau menyukai semua hal klasik termasuk puisi cinta, surat cinta, dan memberi bunga.

Omong-omong tentang itu, kapan aku akan menerima bunga darimu lagi?

Kini segala hal klasik mengingatkanku padamu. Pada kerinduan yang membuncah dan tak berbendung.

Harusnya kau tak memberiku bunga,

Atau puisi cinta,

Tidak juga Surat cinta.

Aku memarahimu lagi. Maaf.

Karena tak ada orang yang bisa ku marahi ketika kesedihan lebih dominan menguasai ketimbang interaksi yang bisa ku bentuk

Sendiri.

Aku merasa kesal jika harus sendirian seperti ini,

Tapi aku pun akan kesal ketika berada dalam kerumunan.

Keramaian tidak membantuku melupakanmu.

Malah semakin memperparahnya.

Aku muak berpura-pura bahagian dan mengumbar senyum, hanya demi dianggap normal.

Hubungan yang kita bentuk dan akhirnya putus, cukup untuk membuatku mati berkali-kali

Aku gagal mencari penggantimu, pengganti kenangan yang kau tinggalkan, pengganti alasanku bertahan dan pada gilirannya aku gagal untuk hidup dengan baik seperti yang ku janjikan padamu.

Tahun berapa ini, aku harusnya menanggali surat yang ku kirimkan padamu.

Surat yang tak pernah sampai karena aku tak menemukan alamatmu.

Karena kau pergi dan bersembunyi terlampau jauh dari dunia yang ku tinggali

Karena di tempatmu nama dan alamat telah menjadi fana.

Fana,

Kata-kata klasik yang kau suka, seperti juga ‘Kematian’ ‘Penghabisan’ dan ‘Surga’

Jadi, kapan aku bisa benar-benar menemuimu?

Tidak bisakah kau bertanya pada-Nya?

.

(Rindu, Penantian dan harapan adalah candu)

Monolog, Dansa dan Patah Hati

Kita adalah dua insan yang bertemu dan akan segera berpisah, sesederhana itu kita bagimu. Kau tak nampak akan mempertahankanku bahkan jika itu sangat sulit bagimu, ku fikir setidaknya sekali. Mohon pertahankan aku. Pertahankan aku karena aku berharga bagimu. Seperti saat kau begitu berharga bagiku. Aku memegangi tanganmu, tak melepaskannya. Aku tak ingin kita berpisah begini, tak ingin kenangan indah di masa lalu menjadi tidak berarti, tersia seperti bungkus permen di kolong meja.

Kalimat itu tak keluar dari mulutku, kami berpisah jalan di halte. Bara dijemput sopir pribadinya sedangkan aku akan menunggu bus yang lewat pertama, aku hanya tak ingin pulang ke rumah sekarang. Aku perlu waktu untuk mewaraskan fikiranku.

“Kita tidak bisa begini, pernikahanku dengan Sofia tak bisa dihindari”

“Maka kita berpisah. Begitu kan maksudmu?”

“Hm. Seperti itu”

“Bagaimana kau akan hidup? Kau akan bahagia bersamanya?”

“Entah, aku bahkan tak tau bahagia itu perasaan yang seperti apa”

“Kita pernah bersenang-senang. Aku cukup dengan itu, mungkin setelahnya kita akan saling terbiasa menjalani kehidupan masing-masing. Jadi yah sudah, kita akhiri begini”

“Kau menangis?”

“Udara berhembus keras, mataku pedih. Sial, kau fikir aku menangis karena kita putus, begitu? Siapa aku, kau lupa siapa aku?”

“Yah, kau Si Keren Lea”

“Baik-baiklah pada Sofia”

“Hm. Aku pergi”

. . .

Aku pasti sudah kecanduan akting. Bara diyakinkan dengan mudah, bahwa aku baik-baik saja. Bahwa aku, dia, kami, tak cukup cinta untuk saling mempertahankan. Kami tak cukup berani untuk melawan takdir.

“Kau meninggalkan dompetmu di meja tadi”

“Ah ya, aku sering teledor begitu. Maaf membuat anda repot membawakannya kemari”

“Kau aktris Lea Silvia, bukan?”

“Ya… wajahku tanpa riasan tapi anda mengenaliku… itu…”

“Adikku penggemar anda. Maaf apa saya boleh minta tanda tangan anda?”

“Ten-tu. Di mana aku harus menulis tanda tanganku?”

“Di Sini”

“Baiklah. Pulpen?”

“Ini”

Mestinya tak ku berikan tanda tanganku. Mestinya kau tidak tersenyum semanis itu, jika tidak tentu hatiku tak kan jatuh seperti ini. Kau, mempengaruhiku seperti dimantrai, aku memikirkanmu berkali setelah pertemuan singkat malam itu.

“Kau ada temu penggemar di Cafe Love malam ini, bersiaplah”

“Maksudmu penggemar yang memenangkan ‘like story’ di radio itu?”

“Wah, ingatanmu tidak terlalu buruk belakangan. Yup! Pemenangnya seorang gadis remaja”

“Aku suka. Gadis remaja lebih baik dari penggemar pria yang memenangkan kencan romantis episode pertama”

“Itu karena kau tidak pernah berkencan, kau hanya tak tau cara melakukannya”

Kencan. Aku juga ingin melakukannya. Dengan seseorang yang tak hanya berniat main-main. Seseorang yang akan memberi keseluruhan hatinya padaku, seseorang seperti itu nampaknya lebih imajinatif dibanding pangeran berkuda putih dalam dongeng.

“Ku kira gadis remaja yang akan datang. Apa saya salah meja?”

“Valisha adikku tidak bisa hadir, keadaannya sangat tidak baik saat ini”

“Ya Tuhan! Dia sakit?”

“Kau mau ikut denganku menemuinya? Valisha sangat sedih tidak bisa datang kemari menemuimu”

“Tentu, kita pergi sekarang”

“Anda naik mobilku saja agar kita sampai lebih cepat”

“Baiklah”

Valisha pernah menjadi alasan kita bertemu. Alasanmu mencariku, alasanku menemuimu dan banyak alasan lain untuk kita sadari betapa kita setidaknya pernah menyentuh kehidupan masing-masing.

“Kakakmu tidak akan datang?”

“Kak Bara ada perjalanan bisnis ke luar kota. Kenapa? Kemari cari Kak Bara bukannya Valy?”

“Apaan sih, Valy? Kakak kemari buat ketemu kamu donk. Kakak cuma iseng tanya Kak Bara.”

“Kak bara juga tanyain Kak Lea lho”

“Ta-tanya apa?”

“Kapan drama Kak Lea tayang lagi?”

“Heh?”

Dia menanyakan jadwal tayang drama yang ku bintangi. Bara yang pendiam dan terlihat acuh tak acuh itu, menonton dramaku. Pria seperti apa dia, apa dia akan menangis saat melihat adegan sedih juga? Apa dia akan tersipu ketika melihat scane romantis? Sungguh, dia mendatangkan pertanyaan dengan tingkahnya yang sulit ditebak itu.

“Kau datang?”

“Kau baru kembali dari perjalanan bisnismu?”

“Ah ya, kau-nampaknya kau sudah akan pergi?”

“Aku akan makan malam di rumah makan depan, kau sudah makan?”

“B-belum”

“Kalau begitu, kita makan malam bersama?”

“Boleh?”

“Tentu. Tapi kau yang telaktir”

“Baiklah”

. . .

“Setiap hari Rabu-Kamis Pkl. 20:30”.

“Ya?

…kau baru saja mengatakan sesuatu?”

“Jam tayang dramaku. Setiap Rabu-Kamis jam 8.30 petang”

“Gadis nakal itu- apa saja yang ia katakan padamu tentangku?”

“Dia bilang kau menyukaiku”

“Dia mengatakan itu juga?”

“Ternyata itu benar”

“Eh?”

“Kenapa kita tidak coba berkencan? Kencan dengan gadis keren sepertiku, itu bukan pengalaman yang buruk, bukan?”

“Kau-kau wanita dan kau menyatakan perasaanmu duluan?”

“Menunggu anda itu akan perlu sepuluh sampai lima belas tahun. Aku tidak suka membuang waktu, ku harap anda juga tidak”

“Apa kau selalu sekeren ini, Nona Lea?”

“Dan apa kau selalu sekaku ini, Tn. Bara?”

“Fokusku tidak terlalu baik setiap melihatmu. Kau sangat bersinar dan tak terjangkau”

“Aku yang akan menjangkau anda jika itu masalahnya”

Ironi untuk kisah kita, bukan aku yang tak bisa kau jangkau melainkan aku tak pernah bisa menjangkaumu. Bayanganmu yang gelap meninggalkan malam, cahayaku tak bisa meraihmu bahkan untuk seribu malam kita yang dipenuhi harapan dan mimpi-mimpi.

“Kencan pertama di hotel? Kau fikir aku wanita murahan-

“Dansa Berpasangan, ku fikir kau sangat ingin mencobanya dengan pasangan sungguhanmu- Apa aku melewati batas? Kita bisa kembali jika kau-

“Bagaimana bisa kau tau tentang dansa berpasangan? Aku tak ingat pernah mengatakannya padamu”

“Di drama. Kau bilang kau ingin tau rasanya berdansa bersama kekasihmu bukannya aktor atau-

CUP!

“Apa yang kau-“

“Bersikap keren untuk pria yang keren,”

“Kau sungguh tak terduga”

“Langkahku mungkin akan canggung, apa tidak apa kita ke dalam?”

“Aku tidak pernah mendengar dialog seperti itu di dramamu. Kita masuk ke dalam sekarang?”

“Tentu”

Kita berdansa sepanjang malam. Kehangatan dan redupnya cahaya ribuan lilin, deru nafasmu yang tak bisa ku lupakan, ritme lembut yang menggerakkan tubuh hanyut dalam tarian. Ku fikir cinta tak perlu menjadi abadi untuk membuatku merasa dimabuk kasih. Bahkan setelah kita berpisah, kita harus tetap menjalani hidup, kehidupan yang mungkin akan terasa lebih sepi. Sangat sepi, sepi yang mati.

“Ka sudah terima skripnya?”

“Sedang ku baca. Tapi… bagaimana kisah ini begitu sedih. Aku harus menguras berapa banyak air mata untuk menghidupkah tokoh ‘Putih’? Dan ada apa dengan nama tokoh ini? Putih. Nama itu tidak hanya terdengar sedih tapi juga sepi dan murung”

“Ada apa denganmu? Kau tidak pernah mengeluhkan karakter dramamu sebelumnya. Kau sakit?”

“Aku? Tidak. Kau lihat, aku cukup kuat untuk memindahkan peket yang besar tadi”

“Memangnya apa isi paket tadi?”

“Entah. Ibu mengirimnya, belum ku buka karena malas”

“Ibumu belum bercerai dari Ayah tirimu yang ke-3”

“Apa begitu penting kau sebut urutannya? Mau itu ke-1, ke-2 ataupun ke-3, mereka tetap bukan ayahku”

“Hah… sekarang aku tau penyebab kekesalanmu. Perlu kita menjernihkan fikiranmu dengan bersepeda?”

“Terlalu lelah untuk menjadi lebih lelah. Managerku yang tampan, aku selalu penasaran kenapa kau tidak memiliki satu pun kisah asmara masa lalu? Kisah yang bisa kau bagi untuk mengurangi kesuntukanku. Cerita romansa manis yang membantuku untuk kembali memiliki harapan”

“Karena aku hanya tampan bagimu saja. Tapi tidak terlalu tampan untuk kau kencani”

“Kau mau berkencan denganku, itu maksudmu?”

“Mau berkencan denganku?”

“Seberapa mampu Adi Diwangkara mempesonaku, uhm?”

“Mau berdansa denganku?”

“Dansa? Aku suka itu”

Dansa diiringi alunan musik klasik yang ku suka, Adi memelukku tak erat seperti tubuhku sebuah bulu baginya, dengan ringannya ia mengayunku kepada senja yang kemilau, udara yang berhembus lembut membisikkan gelitik yang ku suka. Lagi. Hanya Adi sahabat sekaligus manager-ku, menemaniku dalam kesepian yang pekat tanpa kepercayaan akan cinta dan tanggung jawab yang memuakkan bernama kesetiaan.

“Biar ku tebak, Ibumu mungkin saja mengirimkan ubi seperti tahun kemarin”

“Ubi? Kau mencandaiku atau mencemoohku, uhm?”

“Aku selalu penasaran tentang hoby ibumu menanam tanaman rambat”

“Karena ku fikir kenangan manis tentang Ayahku yang menyukai tanaman rambat masih memenjarakan ibu di masa lalu”

“Dan beliau tidak mendapat kebahagiaan yang sama dari suaminya barunya?”

“Ku rasa begitu. Ibu membuat rute pelarian yang salah berkali-kali”

“Bagaiman denganmu? Rute pelarian seperti apa yang akan kau ambil?”

“Entah. Aku hanya merasa lelah karena banyak hal. Tokoh ‘Putih’ membebaniku. Itu saja”

.

(Senja hari yang Jingga, di luar jendela kamarku)

Bercerita Tentang Cerita

Hi! Lama tidak menulis cerita pendek. Nama Blog saya Cenoci kan, guys. Itu kependekan dari Cerpen, Novel dan Kenangan. Awal mula saya buat blog ini gak lain sebagai media tulis-menulis saya. Saya menulis karena saya suka bercerita. Jika kalian kenal saya secara pribadi, saya adalah seorang pendongeng di sekolah. Saya suka bercerita banyak hal mulai fiksi, horor, pengalaman pribadi, cerita orang lain (bukan gosip lho) dan bahas materi pelajaran juga. Saya Si Ceriwis dari kelas XII Jurusan Administrasi (salah satu julukan saya selain Si Nona Buras, Si Biang Ribut, Si Tukang Tidur dan Si Telat Berangkat) ada cerita khusus untuk setiap julukan tersebut. Dulu saya nulis cerpen dan novel di buku tulis, guys, kemudian dipinjam bergantian sampai kadang hilang atau robek. Miris banget, kan? Maklum saya datang dari keluarga menengah kebawah. Perjalanan sekolah saya juga tidak mudah, tapi saya menikmatinya. Saya punya banyak teman dan suka belajar, jadi tidak terasa sulit sekalipun harus menjumpai banyak rintangan. Begitu pun saat saya menulis, saya gak gablek laptop, saya harus ke warnet untuk sekedar latihan ngetik cepat untuk praktik kejuruan.

Warnet langganan saya dijaga Mbak ‘Reggae’ yang cantik dan baik hati, komputernya layar datar (beberapa warnet masih menggunakan komputer tabung) dan suasananya tenang. Saya ke sana tiap pulang sekolah dihari Rabu dan Jum’at. Kadang patungan sama teman, lebih sering sendirian. Ambil paket 3 jam bayarnya 5000,- murah, kan? Hasilnya setelah mondar-mandir selama 4 bulan, saya berhasil meraih nilai 8 untuk penilaian Mengetik Cepat. Horeee…!

Pernah kepikiran buat blog tapi kegiatan bolak-balik warnet terkendala kesibukan Prakerin (Praktek Kerja Industri) juga persiapan Ujian. Ponsel Android saat itu belum nongol di daerah saya. Waktu itu saya pake Hp Samsung Champ, tidak seperti sekarang saya pake Samsung berbasis android sehingga bisa instal wordpress aplikasi yang memudahkan sekali untuk mengelola blog impian saya. Saya gak pake’ laptop jadi mohon maklum kalau view-nya sangat tidak menarik. Ini ceritanya saya maksa jadi penulis blog, gitu, guys. Hehehe…!

Sementara ini blog saya berisi beberapa Novel yang dipublish per-bagian, Cerpen, puisi dan perenungan. Saya ada niat nambah content Cerita Komedi tapi saya belum nemu ide sampai sekarang. Tapi pagi tadi tiba-tiba saja saya keinget kejadian-kejadian di masa sekolah yang buat saya senyum-senyum sendiri. Mendadak saya kepikiran masukin content ‘Kenangan’ dalam blog ini.

Kenapa? Apa cerita keseharian saya di masa lalu semenarik itu? Semoga. Menurut saya semua cerita itu menarik, tergantung dari sudut mana kamu mengurainya. Kalian pasti gak asing dengan dongeng-dongeng klasik yang Disney rombak menjadi cerita baru yang lebih baik dan menarik. Seperti Frozen Tangled, Prince Frog, Cinderella, Snow White, Beauty and The Beast, Lion King dan lain-lain. Kalau kalian baca cerita klasik versi aslinya, kalian akan menemukan Disney mengangkat sudut pandang lain yang menjadi inti ceritanya.

Itu pendapat dangkal saya saja sih. Percayalah, saya jauh dari pemahaman mengenai film apalagi sastra. Saya tipe penonton pasif, saya nonton untuk menenangkan ketegangan syaraf saja. Tapi saya gak asal nonton apa yang tayang di tipi. Saya gak suka film mellow menguras emosi yang ketika nonton bawaannya pengen jambak rambut tokoh antagonisnya.

Planing di tahun 2019 gak akan mengganggu hobby saya menulis, sebaliknya saya berharap bisa lebih aktif lagi dibanding tahun lalu. Saya berharap punya setidaknya 1-2 pembaca setia yang akan ikuti tulisan di blog ini. Seperti dulu ketika tulisan tangan saya dibaca teman-teman, saya rindu perasaan tersebut. Sesederhana itu saya merasa bahagia.

Terus semangati saya dengan kunjungi Blog ini. Jangan ragu memberi kritik pedas, saya tidak akan menjadi lebih baik tanpa kritik dan saran.

-Salam Menulis-

Cerita Kaos Putih Ketua Kelas

Saya mau berbagi cerita tentang ketua kelas saya dulu. Saya samarkan namanya menjadi Akang. Dia bertubuh kurus-tinggi dengan kulit kuning langsat yang menjadi kebanggaannya itu. Kenal sekilas dia kelihatan pendiam dan apatis. Namun, saya berkesempatan lebih mengenal dia saat kami satu tempat Prakerin. Dari kebersamaan singkat kami saya mengenal dia sebagai Akang (Kakak laki-laki) yang menyenangkan diajak ngobrol, dia pendengar yang baik, ramah-tamah dan manis.

Saya membayangkan memiliki kakak laki-laki mungkin akan semenyenangkan itu. Berbeda dengan saya yang sangat pasif sehingga menjauhi kegiatan berkelompok juga ekstra kulikuler, sebaliknya Akang aktif untuk setiap kegiatan sehingga ia memiliki banyak teman dan pengalaman. Ia juga disukai guru-guru di sekolah, alasan yang membuat beberapa orang merasa iri dan terintimidasi.

Tidak jarang Akang menjadi bahan olok-olok dibelakang. Lebih banyak ia dikritik mengenai penampilannya yang sering kali terlihat memakai kaos lengan panjang putih dengan bawahan celana bahan warna hitam.

Saya tidak terlalu memperhatikan apa yang orang lain pakai mungkin karena saya sendiri sangat cuek dengan penampilan. Namun untuk banyak orang penampilan adalah konsep terbaik untuk menggolongkan orang-orang dalam strata tertentu. Pemikiran Purba yang saya benci. Akang menjadi korban Kedangkalan Pandangan Mayoritas kala itu.

Saya sedih saat mendengar seorang teman terang-terangan mengomentari kaos putih kesayangan Akang. Saya ingin menampar mulut orang itu jika saja saat itu Akang tidak bersama saya. Membelanya seperti itu justru akan merendahkan martabatnya sebagai laki-laki. Maka saya memilih berdiam diri menahan emosi.

Kalian tau apa responnya?

Saya tidak pernah menduga ketika dengan santainya ia mengatakan;

“Spongebob saja cuma punya satu model pakaian, begitupun Naruto dan Sinchan.”

Jawaban spontannya tersebut mengundang gelak tawa semua yang mendengarnya.

Akang is The Best, dia menjadi dirinya sendiri yang selalu mandiri dan percaya diri. Saya berharap dimanapun ia berada saat ini Allah akan terus membimbing langkah kakinya, memantapkannya dan membuatnya tak goyah.